Logika Penalaran Misteri Kopi ‘Maut’ Jessica Buat Mirna – Part 1

rekonstruksi kopi 'maut' mirna di cafe olivier (net)
rekonstruksi kopi ‘maut’ mirna di cafe olivier (net)

ceritakita.kicknews.today Jakarta – Alkisah, di suatu sore, seorang wanita bersama rekannya mendatangi sebuah kafe di kawasan mal Jakarta Pusat.

Wanita ini dikenal dengan nama Mirna, dan temannya Hani yang ingin berkunjung menemui seorang sahabat lamanya sewaktu belajar di Australia.

Teman kuliahnya di Negeri Kangguru tersebut bernama Jessica, rupanya ia justru sudah tiba di kafe, sembari menunggu, ia memesankan minuman untuk kedua temannya yang sedang menuju ke “Cafe Olivier”, tempat di mana mereka telah sepakati untuk bertemu.

“Kamu mau dipesankan minuman apa?” kata Jessica kepada Mirna melalui sebuah pesan singkat, sekitar setengah jam sebelum Mirna tiba di lokasi.

“Es Kopi Vietnam,” jawab Mirna, kemudian Jessica memesan Cocktail dan “Fashioned Sazerac” untuk Hani, sedangkan Mirna dipesankan Es Vietnam Kopi sesuai permintaan.

Tak lama kemudian pesanan datang terlebih dulu, dibandingkan dengan kedatangan Mirna dan Hani di Cafe Olivier. Akhirnya Mirna dan Hani datang, kisaran puluhan menit setelah pesanan disajikan, selanjutnya mereka kemudian menuju meja yang sudah dipesan.

Jessica sudah menunggu di meja tersebut, dengan tiga minuman pesanan sudah tersaji di atas meja kafe. Mereka bercakap basa-basi tanpa adanya tendensi permasalahan atau pertengkaran antara ketiganya.

Sembari bercakap dengan temannya, Mirna meminum Es Kopi Vietnam yang dipesannya melalui Jessica, begitu juga lainyya menyeruput minuman masing-masing, seperti wanita lainnya ketika bertemu, mereka asik mengobrolkan sesuatu dalam perbincangan.

Di tengah perbincangan, sesuatu terjadi, Mirna nampak kejang-kejang secara mendadak, kepanikan melanda antara Jessica dan Hani, dengan masih mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada Mirna.

Mirna masih kejang-kejang, dan mencoba untuk di bawa ke klinik di pusat perbelanjaan tersebut, selanjutnya di rujuk ke Rumah Sakit Abdi Waluyo Menteng, Jakarta Pusat.

Sayangnya, tidak lama kemudian, Mirna meninggal usai mendapat perawatan di rumah sakit tersebut.

Kejadian tersebut terjadi pada hari Rabu, 6 Januari 2016.

Seperti layaknya detektif, dugaan pertama polisi adalah Wayan Mirna Salimin atau Mirna (27) tewas akibat zat korosif yang menyebabkan kerusakan pada lambung.

“Diduga zat korosif itu dicerna merusak sistem tubuh yang menyebabkan kematian,” kata Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Musyafak.

Dokter forensik telah mengotopsi jasad Mirna di Rumah Sakit Polri Kramatjati Jakarta Timur pada Minggu (10/1) mulai 00.00 hingga 01.00 WIB.

Musyafak menuturkan penyebab utama kematian Mirna bukan karena kerusakan lambung tanpa sebab namun diduga ada zat korosif.

Menurut Musyafak, dugaan kerusakan lambung Mirna akibat zat korosif jenis sianida berdasarkan ciri reaksi korban seperti kejang, mulut mengeluarkan buih.

Sementara itu, penyidik menganalisa kamera tersembunyi (CCTV) di lokasi kejadian, namun tidak menunjukkan hasil yang signifikan.

Pasalnya, kamera tersembunyi itu tidak merekam lokasi tempat duduk Mirna maupun rekannya korban yang tiba lebih dulu di lokasi kejadian.

Namun, polisi mendalami keterangan sejumlah saksi, termasuk seorang saksi kunci terkait kematian korban yang diduga tidak wajar sehingga dicurigai terjadi tindak pidana.

Hingga sudah saatnya, penyelidikan mulai melibatkan para saksi-saksi di lokasi kejadian.

Penyidik Polda Metro Jaya menyatakan seorang pekerja Olivier Cafe di Mal Grand Indonesia yang berstatus saksi ternyata muntah usai mencicipi setetes kopi yang dikonsumsi korban, Mirna.

“Ketika saksi mencicipi setetes kopi itu, ia merasakan kebas,” ungkap Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Krishna Murti.

Setelah Mirna kejang usai mengonsumsi kopi itu, Kombes Krishna menjelaskan saksi mata itu membawa kopi ke dapur.

Pegawai kafe itu menuang kopi itu menggunakan sedotan ke telapak tangan kemudian mencicipi hingga bereaksi rasa mual dan muntah.

Krishna menuturkan saksi tersebut mengalami mual selama 30 menit dan muntah.

“Berdasarkan itu, polisi menduga kopi itu mengandung ‘sesuatu’,” ujar Krishna.

Kombes Krishna juga menduga kopi tersebut mengandung suatu zat tertentu berdasarkan informasi awal dari tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri.

Krishna juga menambahkan penyidik menduga terjadi kematian tidak wajar terhadap Mirna karena kecurigaan terdapat zat berbahaya pada kopi tersebut.

Namun, Krishna menegaskan hal itu harus dibuktikan secara analisis alamiah terhadap sampel lambung, hati dan empedu Mirna, termasuk kandungan kopi.

Ditegaskan Krishna, penyidik kepolisian belum dapat memastikan kematian Mirna terjadi unsur tindak pidana pembunuhan atau tidak karena menunggu hasil analisis tim forensik pada saat itu.

Polisi juga harus menyusun dan merekonstruksi kronologis, serta mencocokkan alat bukti lainnya guna menyimpulkan kematian Mirna terdapat unsur pidana atau tidak.

Narasi kejadian tersebut memunculkan banyak dugaan, analisis logika dan rangkaian deduksi yang ingin dipecahkan oleh kepolisian atau masyarakat yang mengikuti jalannya kasus tersebut di media.

Karena di luar dugaan, kasus ini tidak melibatkan tokoh besar atau terkenal, namun menyita banyak perhatian publik. Menebak-nebak motif dan tersangka menjadi pembicaraan umum masyarakat.

Bahkan perbincangan publik antar individu menjadikan seolah ahli memecahkan kasus dan berusaha memaparkan logika serta fakta untuk meyakinkan teman bincangnya.

Deduksi Sampai kasus kematian Mirna belum terungkap jelas, maka dugaan-dugaan tersebut hanya akan menjadi tebak-tebakan saja. Tidak ada jawaban yang aka memuaskan. Tetapi, ada beberapa hal yang memudahkan orang untuk mengambil kesimpulan dari setiap kasus, agar tidak asal dalam membuat kesimpulan.

Trik deduksi merupakan suatu trik yang mempermudah untuk pemahaman logika untuk menyimpulkan sesuatu atas kemungkinan-kemungkinan. Secara terminologi, deduksi adalah logika penalaran, di mana menggunakan data untuk membangun teori atau kesimpulan.

Contoh: P1: Semua manusia adalah makhluk yang lemah P2: Saya terlahir sebagai manusia K : Maka saya terlahir sebagai makhluk yang lemah Dalam kaitannya dengan kasus kematian Mirna, masyarakat mempunyai deduksi sendiri untuk mengambil kesimpulan dalam pemecahaannya.

Deduksi paling umum yang menjadi perbincangan publik adalah : P1 : Semua kematian mendadak pasti mempunyai sebab logis.

P2 : Mirna mati mendadak K : Maka mirna mati mendadak pasti ada penyebab logis.

Tidak cukup dengan hal tersebut, masyarakat nampak cerdas memahami suatu kasus, kemudian terjadi premis deduksi kedua untuk mengaitkan dugaan pidana.

P1 : Kematian akibat racun dugaan pembunuhan berencana.

P2 : Mirna mati keracunan K : Maka Mirna mati dugaan pembunuhan berencana.

Sehingga jika kedua premis deduksi digabungkan maka muncul dugaan Mirna mati keracunan ada dugaan pembunuhan berencana. Hal tersebut setidaknya memunculkan rasa kepuasan sesaat atas logika berpikir untuk mengarahkan adanya tindak pidana.

Yang menjadi masalah adalah, dalam kasus ini ada banyak sekali kemungkinan gabungan premis antar kesimpulan deduksi apalagi motifnya belum terbaca jelas hingga saat tulisan ini dibuat.

Di benak orang pasti mempunyai deduksi masing-masing untuk memecahkan kasus ini. Tidak lain kemudian Tim Penyidik Polisi ternyata sudah “mengumumkan” deduksi-nya sendiri, tentunya kesimpulan deduksi dari orang yang ahli di bidanngnya dan berdasarkan bukti yang ada.

Deduksi dari polisi secara institusi merupakan yang paling sah dan berwenang. Entah Tim Penyidik menggunakan panalaran seperti apa dalam menentukan pengerucutan kasus, namun pada kenyataannya polisi mengerucutkan dugaan untuk menentukan Jessica Wongso alias Jessica sebagai tersangka pembunuhan Mirna.

Secara gamblang dan detail kepolisian tidak bisa membuka fakta dan bukti yang mengarahkan Jessica sebagai tersangka. Akhirnya, Kepolisian Daerah Metro Jaya telah resmi menetapkan status Jessica Wongso sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Wayan Mirna yang meninggal setelah minum kopi beracun sianida.

Jessica ditangkap di sebuah hotel kawasan Mangga Dua, Jakarta, karena ketika dicari dirumahnya tidak ada orang. Polisi kemudian membawa Jessica untuk ditahan setidaknya 20 hari guna pelengkapan berkas penyidikan. (bersambung)


Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat