Logika Penalaran Kopi ‘Maut’ Jessica Buat Mirna – Part 2

rekonstruksi kopi 'maut' jessica buat mirna di cafe oliver (tempo)
rekonstruksi kopi ‘maut’ jessica buat mirna di cafe oliver (tempo)

ceritakita.kicknews.today Jakarta – Perspektif Kasus Kasus ini selain menarik masyarakat untuk menerka setiap babak, tentu saja menjadi minat tersendiri bagi para pakar yang menggeluti dunia kriminal dan motifnya.

Salah satunya, Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel, ia menilai siapapun pelaku yang mencampurkan racun sianida ke dalam kopi yang diminum Wayan Mirna Salihin hingga tewas memiliki latar belakang dan motif khusus.

Reza menyebutkan pelaku menggunakan cara yang terbilang aneh untuk menghabisi nyawa korbannya, yakni menggunakan sianida di tempat terbuka.

“Jadi, pembunuhankah ini? Aneh bahwa sianida dipakai untuk menghabisi korban yang berstatus sosial biasa-biasa saja. Alhasil, jika ini dianggap pembunuhan, maka pembunuhnya adalah orang dengan latar khusus,” ujar Reza.

Ketika ditanya lebih lanjut, Reza balik bertanya, “Atau mungkinkah ini salah sasaran?” Reza menguraikan, pembunuhan dengan racun sianida mengindikasikan pelaku tidak ingin beraksi secara frontal berhadapan dengan Mirna.

Reza pun menduga pelaku terbiasa dengan zat kimia sehingga memutuskan untuk menggunakan zat maut sianida untuk membunuh korbannya. Dia meminta polisi terus memperkuat pembuktian ilmiah karena kasus ini bukan pembunuhan jalanan, melainkan menggunakan racun, serta agar tidak terlalu mempercayai keterangan saksi.

“Perkuat pembuktian,” kata dia. “Ingatan mudah terfragmentasi dan terdistorsi. Ingatan adalah benda paling merusak dalam pengungkapan kasus jadi kepolisian jangan terlalu jauh mengejar kesaksian.” Pada kesempatan dan perspektif lainnya, Profesor Sarlito Wirawan, ahli psikologi kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, mengatakan Jessica Kumala Wongso merupakan sosok yang cerdas secara intelegensi.

“Jessica secara intelegensi cerdas dan secara kepribadian sehat. Tidak bermasalah,” tutur guru besar Universitas Indonesia itu di Mapolda Metro Jaya.

Kesimpulan ini didapatkan Sarlito setelah membaca hasil psikotes Jessica. “Jadi analisis yang menyebut kepribadian ganda itu tidak ada,” ujarnya. Namun, Sarlito tak bisa memastikan apakah tersangka berbohong atau tidak, karena merupakan kewenangan polisi. Ia mengaku juga belum bertemu langsung dengan Jessica.

Lain pakar, lain hal lagi keterangan yang diberikan oleh ayah Mirna, Dermawan Salihin, kali ini keterangan atau prediksi dari Dermawan terlihat sangat meyakinkan. Selain lebih dekat emosi dengan korban sebagai hubungan ayah-anak, Dermawan mengaku telah melakukan penyelidikan awal, bahkan melihat hasil rekaman CCTV.

“Sudah lihat rekaman CCTV, dan gerak-gerik tersangka memang mencurigakan, ia nampak mengamankan posisi dari sudut pandang CCTV,” ungkap Dermawan dalam sebuah acara langsung salah satu TV nasional.

Lebih lanjut ia juga menjelaskan bahwa Jessica mempunyai titik kritis di mana ia terdapat kemungkinan untuk mencampurkan sianida ke dalam Es Vietnam, lanjutnya lagi, hal itu diperkuat dengan dugaan ada upaya menutupi minuman dengan tas kertas (Papper Bag) yang diletakkan di antara sudut CCTV dan gelas minuman.

Dermawan Salihin mengaku memiliki data berbeda dengan penyidik Polda Metro Jaya terkait kematian putrinya yang melibatkan tersangka Jessica Kumala Wongso.

“Gini, apa yang polisi tidak punya, saya punya,” tegasnya.

Dermawan enggan mengungkapkan data maupun petunjuk yang dimiliki tersebut, namun akan disampaikan kepada penyidik kepolisian untuk disinkronkan. Dermawan berjanji akan membuka informasi terkait kematian Mirna di hadapan majelis hakim saat sidang pengadilan.

Salah satu bukti keanehan Jessica yang diungkapkan Dermawan, tersangka sempat terlibat percakapan dengan putrinya Mirna melalui media “Whatsapp” berisi “Mau dong dicium kamu Mir,”.

Babak fakta baru telah dimunculkan Dermawan, seakan dia yakin punya kartu AS untuk menjerat pembunuh anaknya. Hanya saja drama kasus ini terkesan “menarik” karena semua pihak tersangka, keluarga dekat, bahkan saksi memiliki gestur yang tenang tidak mencurigakan. Terutama Jessica sebagai tersangka, dan Dermawan sebagai ayah korban yang sama-sama tenang seperti menyembunyikan senjata pamungkas di masing-masing pihak.

Fakta Kasus kematian dari racun di kopi ini masih memunculkan dugaan-dugaan misteri, satu tersangka yang sudah disebutkan secara jelas menjadi satu langkah besar. Apakah itu strategi Polisi untuk memancing tersangka lain atau bahkan tersangka yang sekarang adalah yang sebenarnya hanya penyidik yang tahu.

Tapi motif dan kronologis tepatnya bahkan belum dirilis oleh kepolisian, menunggu penjelasan semua bukti dan fakta di pengadilan. Termasuk bukti CCTV, celana Jessica yang sudah di buang, percakapan pesan di ‘handphone’ ataupun bukti baru yang belum dimunculkan.

Satu hal yang sudah jelas adalah Mirna dipastikan meninggal akibat keracunan sianida. Hal tersebut menjadi titik awal untuk mengawali semua dugaan dan penyebabnya.

Kepolisian mengemukakan bahwa kandungan sianida dalam cangkir kopi yang diminum almarhumah Wayan Mirna Salimin, sudah dalam dosis yang mematikan.

“Secangkir kopi (yang diminum) Mirna dapat mengakibatkan kematian hingga 25 orang,” kata Direktur Eksekutif Disaster Victim Identification (DVI) Indonesia Kombes Pol Anton Castilani.

Hasil penyidikan menjelaskan bahwa dalam cangkir Mirna, ditemukan Sodium Sianida dengan kadar 15 gram/L atau 15 mg/cc. Anton memperkirakan bila Sodium Sianida tersebut berupa serbuk yang dilarutkan ke minuman kopi.

Ia berasumsi, bila secangkir minuman berisi 250 cc, maka cangkir tersebut berisi 3.750 mg sodium sianida.

Padahal, kata Anton, rentang dosis sianida yang menyebabkan kematian yakni 150 – 200 mg. “Maka secangkir kopi Mirna bisa menyebabkan kematian 20 sampai 25 orang,” katanya.

Menurutnya, dengan mengkonsumsi sianida dalam dosis mematikan, kematian seseorang dapat terjadi dalam hitungan menit saja.

Lebih lanjut ia menuturkan sianida yang masuk ke ke tubuh akan menghambat pernafasan sel sehingga terjadi gangguan penyerapan oksigen oleh sel tubuh mulai dari kepala sampai kaki. “Sehingga mempengaruhi semua sistem organ,” ujarnya.

Reaksi awal seseorang yang terkontaminasi zat ini, akan merasa pusing, penglihatan menjadi gelap hingga tak sadarkan diri.

“Dan ketika sianida sudah mulai melumpuhkan organ-organ vital (pernafasan, jantung, otak) maka akan timbul gangguan lain seperti kejang, berhenti nafas, denyut jantung berhenti,” paparnya.

Mendukung data tersebut, Kepala Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri Brigadir Jenderal Polisi Alex Mandalika menyatakan pada lambung Wayan Mirna Salimin alias Mirna (27), perempuan muda yang tewas setelah minum kopi es di sebuah kafe di Jakarta, ditemukan zat sianida.

“Isi lambung juga positif mengandung sianida,” kata Brigjen Polisi Alex Mandalika.

Alex mengatakan petugas Puslabfor Mabes Polri menduga kematian Mirna akibat sianida dicampur es kopi yang diminum korban.

Alex menyebutkan petugas juga menemukan zat sianida pada air kopi yang dikonsumsi Mirna dengan kandungan mencapai 15 gram/liter atau 15 mg/cc.

Fakta yang ada dan bisa dijelaskan secara logis sesuai fakta hanyalah penyebab kematian Mirna. Dan hal itu bisa dipertanggung jawabkan hasilnya, selebihnya masih menjadi misteri bagi masyarakat, karena kepolisian belumn menyebutkan fakta yang telah ditemukan lainnya.

Selanjutnya kasus ini akan diungkap dalam sidang di pengadilan, semua pihak akan mengeluarkan bukti-bukti terkuatnya guna meyakinkan hakim. (TAMAT)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat