DPRD Lotim Sepi, Pengunjukrasa Tolak Pengerukan Pasir Lombok Kecewa

Unjukrasa tolak pengerukan pasir Lombok (kicknews)
Unjukrasa tolak pengerukan pasir Lombok (kicknews)

kicknews.today Selong, Lombok Timur – Masa yang tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat (FPR) berunjukrasa menentang terkait rencana penambangan pasir di kawasan pantai Kabupaten Lombok Timur (Lotim) untuk Reklamasi Pantai Benoa Bali, Rabu (27.1) bertempat di kantor DPRD Lotim.

Dengan jumlah massa sekitar 2000 orang yang berasal dari masyarakat Labuan Haji, Kruak dan Jero Waru mendesak untuk menyampaikan aspirasi mereka yang dengan tegas menolak rencana pengerukan pasir yang disinyalir direstui Pemerintah Daerah dengan alasan untuk menambah PAD Lotim tersebut.

Unjukrasa damai yang berlangsung sekitar jam 09.00 Wita tersebut, massa FPR gagal bertemu dengan anggota DPRD Lotim karena semua anggota dewan lotim tidak berada ditempat, setelah pihak kepolisian Resor Lotim membantu memediasi para pengunjukrasa untuk bertemu dengan anggota DPRD Lotim.

Selanjutnya, massa yang merasa kecewa melanjutkan aksi mereka menuju Kantor Bupati.  Pihak Polres Lombok Timur yang mengawal unjukrasa tersebut sempat menenangkan para demonstran saat terjadi aksi lempar batu oleh beberapa orang pengunjukrasa, namun himbauan itu tidak dihiraukan pengunjukrasa.

Akhirnya untuk mencerai beraikan massa, pihak kepolisian menembakkan gas airmata yang mengakibatkan suasana semakin kacau.

Beberapa orang pengunjukrasa saling bertabrakan satu sama lain hingga banyak dari mereka yang terjatuh, dan menderita luka.

Kapolres Lombok Timur AKBP Karsiman yang turun langsung kelapangan, kembali menghimbau pengunjukrasa untuk tertib dan membantu memediasi pengunjukrasa yang diwakili oleh kades dan tokoh masyarakat untuk bertemu pejabat Pemkab Lotim.

Dalam aksi tersebut, para pengunjukrasa menyatakan dalam orasinya bahwa FPR menolak dengan tegas rencana pengerukan pasir tersebut karena itu akan membuat rakyat semakin sengsara.

Sebagaimana berita yang selama ini beredar tentang rencana pengerukan pasir di Lotim untuk kepentingan reklamasi Teluk Benoa Bali, menurut pengunjukrasa, telah melukai hati rakyat karena volume yang akan dikeruk mencapai 70 juta meter kubik dengan kedalaman 26 sampai dengan 51 m dan dengan luas pengerukan 1008,5 dengan jarak mencapai 5 kilometer dari bibir pantai.

Hal tersebut jelas akan mengancam kelangsungan hidup masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya dari sektor kelautan. Dan dengan adanya pengerukan pasir dalam volume besar, akan merusak  habitat dan ekosistem laut sehingga otomatis akan menurunkan pendapatan mereka (nelayan).

Sementara itu pengunjukrasa yang mengalami luka dibawa pihak kepolisian ke RSU Lotim untuk mendapatkan perawatan.

“Kami (Polres Lotim) akan menanggung semua biaya pengobatan dan perawatannya,”Jelas Kapolres.*

 

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat