Rencana Bulog Datangkan Beras Di Protes Petani Mataram

Ilustrasi petani NTB saat sedang panen padi (kicknews foto : ayah akra)
Ilustrasi -  petani lingkungan karang panas kecamatan ampenan kota mataram saat sedang panen padi (kicknews foto : ayah akra)

kicknews.today Mataram – Sejumlah petani di Kota Mataram memprotes rencana kebijakan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Nusa Tenggara Barat, yang hendak mendatangkan beras dari Provinsi Jawa Timur.

“Sejumlah petani melakukan protes ke kami, karena jika pemerintah mendatangtkan beras dari luar maka harga beras para petani di kota akan turun,” kata Kepala Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPKP) Kota Mataram H Mutawalli di Mataram, Senin (25/1).

Menurut dia, protes yang dilakukan sejumlah petani kepada lembanganya itu sangat wajar, karena selama ini DPKP Kota Mataram mendorong petani setempat untuk memperluas areal tanam sekaligus meningkatkan produksi.

Akan tetapi, di tengah itu muncul rencana pemerintah yang akan mendatangkan beras dari luar sehingga hal itu menjadi ironi bagi para petani.

“Jadi wajar petani protes, sebab jika rencana itu benar terjadi maka petani kita bisa merugi,” sebutnya.

Lebih jauh Mutawalli menyebutkan, bahwa stok beras di NTB sebagai salah satu lumbung padi nasional saat ini masih cukup dan siklusnya pun normal.

“Yang kurang mungkin beras untuk dijual, dan munculnya rencana impor beras ini karena adanya kepentingan internal ‘B to B’ (bisnis to bisnis) antara Bulog NTB dengan Bulog Jatim,” ucapnya.

Dikatakannya, produksi beras di Kota Mataram saat ini mencapai 28.500 ton, yang dapat memenuhi kebutuhan warga kota sekitar 40-50 persen.

Sementara sisanya, didatangkan dari beberapa kabupatan di daerah ini, seperti dari Lombok Barat dan Lombok Timur.

“Walaupun demikian, warga kota tidak perlu khawatir sebab kabupaten penyuplai beras masih surplus,” katanya.

Apalagi secara umum produksi gabah di NTB mencapai 2,3 juta ton per tahun, sementara yang dikonsumsi hanya 600 ribu kilogram hingga 800 ribu kilogram.

Sedangkan sisanya dikirim ke luar daerah untuk memenuhi kebutuhan pada beberapa daerah tetangga seperti Bali, Jakarta dan Nusa Tenggara Timur.

“Artinya, kita ini daerah lumbung beras dan tidak perlu ada impor beras,” ujarnya.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat