Wetu Telu, Filosofi Hidup Masyarakat Adat Bayan

masjid bayan beleq (ant)
masjid bayan beleq (ant)

kicknews.today Bayan, Lombok Utara – “Banyak orang yang salah tangkap tentang Wetu Telu di Bayan” kata Rianom. Tokoh Adat Karang Bajo Bayan itu menjelaskan, pada awak media saat kunjungan para insan media dalam acara Field Trip bersama LSM Somasi NTB, Minggu (17/1).

“Kesalahan utama pemahaman orang luar adalah anggapan bahwa penghayatan Wetu Telu hanya menunaikan shalat tiga waktu dalam sehari. Dan itu salah besar,”lanjutnya.

Masih banyak masyarakat bahkan di Nusa Tenggara Barat (NTB) sendiri yang menganngap Wetu Telu adalah sebuah agama tradisional atau agama adat yang hanya ada di Bayan dan mengartikan kata wetu itu sebagai waktu, padahal sebenarnya bukan.

Hal itu juga di amini oleh tokoh pemuda Bayan dari Desa Bayan Timur, R. Sawinggih, yang coba meluruskan anggapan itu.

“Wetu Telu itu filosofi dasar orang Bayan, ia adalah pedoman hidup, bukan agama.  Agama kami ya Islam, kami Muslim, shalat kami ya lima waktu,” tegasnya.

Wetu Telu oleh masyarakat Bayan memaknainya sebagai aturan adat yang berfungsi menjaga kehidupan masyarakat agar lebih teratur dan tenteram. Aturan-aturan agama dan aturan adat, ungkap mereka, saling melengkapi, bukan saling menyelisihi.

Dalam pemahaman orang Bayan Wetu Telu juga sering disebut dengan Sesepan yang kira-kira jika dalam bahasa Indonesia berarti diresapi.

“Ini terkait dengan filosofi Wetu Telu sebagai sesuatu yang harus diresapi dengan benar, inti dari Wetu Telu adalah pemahaman akan tiga unsur utama dalam hidup manusia,” jelas Rianom.

Filosofi Wetu Telu adalah bagian dari tiga siklus kehidupan utama manusia, hewan dan tumbuhan;  Metu (beranak), Metioq (tumbuh), dan menteloq (bertelur).

“Prinsip Wetu Telu juga bisa diartikan sebagai tiga unsur pemberi hidup manusia, yaitu Allah (Tuhan), inaq (ibu),  dan amaq (Bapak).”.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat