Kapal Tanker Ditangkap, Newmont Bantah Buang Limbah Ke Laut

ilustrasi
ilustrasi – Manager Tanggungjawab Sosial PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) Syarafuddin Jarot di Mataram, Kamis (21/1), membantah jika perusahaan asal Amerika Serikat tersebut membuang limbah apapun dari kapal Red Rock Voyage 1602 (net)

 

kicknews.today Mataram – Manajemen PT Newmont Nusa Tenggara membantah membuang limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) di laut Sawu, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Manager Tanggungjawab Sosial PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) Syarafuddin Jarot di Mataram, Kamis (21/1)(21/1), membantah jika perusahaan asal Amerika Serikat tersebut membuang limbah apapun dari kapal Red Rock Voyage 1602 milik PT Meratus Line.

“PT NNT tidak pernah membuang limbah apapun dari kapal tersebut ke laut,” tegasnya.

Ia menjelaskan, sesuai manifest, limbah yang diangkut oleh kapal Red Rock Voyage 1602 milik PT Meratus Line, adalah pelumas bekas dan limbah-limbah bekas lainnya yang telah mendapat izin untuk dikirim ke sarana-sarana pendaur ulang limbah berizin milik pihak ketiga di dalam negeri.

Karena itu, PT NNT, kata dia, juga mengizinkan dilakukannya penyeleidikan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat yang hingga saat ini tidak mendapati ketidaksesuaian dengan manifest.

Sebelumnya, Lantamal VII Kupang, menangkap kapal yang mengangkut puluhan ton limbah B3 milik PT NNT yang diduga akan dibuang di perairan NTT pada Selasa, 19 Januari 2016.

Limbah diangkut kapal dengan nama lambung Red Rock Voyage 1602 milik PT Meratus Line. Kapal itu mengangkut sekitar 11 kontainer yang berisi limbah tembaga dari PT Newmont. Kapasitas setiap kontainer sekitar 20 ton. Kapal itu disergap kapal Angkatan Laut Weling di Laut Sawu, kemudian dibawa ke dermaga Lantamal VII.

Sementara itu Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi meminta PT NNT untuk menaati semua aturan yang berlaku menyusul tertangkapnya kapal tanker Red Rock yang diduga bermuatan limbah B3.

“Saya minta perusahaan di NTB ini mengikuti semua aturan, termasuk dengan masalah limbah B3 ini. Limbah itu berbahaya. Jadi semua perusahaan jangan macam-macam, terlebih dengan isu lingkungan yang seharusnya dijaga,” tegas Zainul Majdi.

Menurutnya, secara aturan proses pembuangan limbah harus jelas dan transparan, apalagi yang menyangkut limbah B3. Apakah itu, menyangkut jumlah, tempat menaruh, seperti apa prosesnya, harus semua jelas dan disampaikan kepada otoritas berwenang, yakni pemerintah. Terutama pemerintah kabupaten dimana lokasi perusahaan itu berada dan melaksanakan usahanya.

“Semestinya semua ini harus jelas. Tetapi inikan tidak, tiba-tiba kapal berangkat begitu saja tanpa diketahui dan tanpa persetujuan Bupati Sumbawa Barat. Padahal itu, menyangkut limbah B3 yang jumlahnya sekian ton, kemudian ada scram juga yang bahaya, namun kita tidak tahu kayak apa prosesnya,” ketusnya.

“Limbah B3 itu sangat berbahaya, bukan hanya untuk manusia tetapi juga lingkungan,” ucap gubernur yang akrab disapa dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB).

Lebih lanjut, ia mengaku tidak ingin menduga-duga apakah limbah B3 yang berasal dari PT NNT tersebut sudah sering dibuang tanpa sepengetahuan pemerintah daerah.

“Kalau persoalan itu saya tidak ingin menduga-duga. Tetapi faktanya adalah kapal pengangkut itu ditangkap oleh TNI AL dan diminta bersandar di Pelabuhan Kupang, NTT,” katanya.

Untuk menindaklanjuti hal tersebut, ia menyatakan telah memerintahkan Dinas Pertambangan dan Badan Lingkungan Hidup, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika, termasuk tim penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) untuk berangkat menuju Kupang memeriksa isi kontainer kapal tanker Red Rock tersebut. (ant)


Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat