in ,

DPR Dukung Gubernur Tolak Beras Dari Luar Masuk NTB

ilustrasi
"Rencana beras dari Jatim itu akan tiba hari Kamis (21/1). Itu bukan beras impor, tapi beras komersial untuk stok, bukan untuk disalurkan menjadi raskin," kata Hubungan Masyarakat (Humas) Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Nusa Tenggara Barat (NTB) Marlinda (net)
“Rencana beras dari Jatim itu akan tiba hari Kamis (21/1). Itu bukan beras impor, tapi beras komersial untuk stok, bukan untuk disalurkan menjadi raskin,” kata Hubungan Masyarakat (Humas) Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Nusa Tenggara Barat (NTB) Marlinda (net)

kicknews.today Mataram – Wakil Ketua DPRD Nusa Tenggara Barat Mori Hanafi secara tegas menolak rencana Perum Bulog untuk mendatangkan beras asal Jawa Timur.

“Tidak ada alasan beras luar masuk NTB,” kata Mori Hanafi di Mataram, Rabu (20/1).

Ia menuturkan, sangat mendukung langkah Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi yang dengan tegas tidak menginginkan beras asal Jawa Timur (Jatim) masuk ke daerah itu. Karena dinilai dapat merugikan petani.

Selain itu, pihaknya mempertanyakan alasan Bulog ingin memasukkan beras tersebut disaat produksi beras sedang melimpah.

“Kita tahu, memang domain Bulog memasukkan beras ke mana saja. Tetapi, harus jelas juga apa alasannya. Misalkan, daerah itu kekurangan beras dan harga tidak terkendali sehingga mempengaruhi inflasi,” jelasnya.

Karena, kata dia, jangan sampai dengan masuknya beras tersebut dapat mempengaruhi produksi dan harga ditingkat petani.

“Intinya kami mendukung pemprov. Bahkan ini wajib ditolak,” katanya.

Ia menduga rencana kedatangan beras sebanyak 7.000 ton ke NTB itu, sudah diatur oleh para mafia beras mengingat beras yang didatangkan dari Jatim tersebut jenis premium, sehingga mustahil jika beras tersebut untuk masyarakat miskin.

“Kalau ini ditujukan untuk raskin tidak mungkin sebanyak itu,” kata dia.

Sebelumnya, Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi menyayangkan rencana Bulog NTB yang ingin mendatangkan beras sebanyak 7.000 ton dari Provinsi Jatim saat produksi beras di daerah itu sedang melimpah.

“Selama ini kita tidak pernah menyiapkan stok ataupun menambah stok dari produksi beras dari luar daerah, padahal saat ini produksi beras kita sedang melimpah,” katanya.

Menurut Gubernur, seharusnya saat produksi beras lokal sedang melimpah, bahkan hingga surplus tidak semestinya pihak Bulog mendatangkan beras dari luar NTB. Justru seharusnya pihak Bulog membeli beras dari petani lokal.

Jika rencana itu terjadi akan mematikan kehidupan petani di daerah itu. Karena akan menurunkan semangat dan antusiasme para petani untuk tidak menanam padi.

“Saya tidak mengerti ada hal darurat apa sehingga Bulog ingin mendatangkan beras dari Jatim. padahal kita juga sudah menolak masuknya beras impor. Segera saya meminta laporan Bulog untuk mengetahui apa alasannya,” ujarnya.

Disinggung terkait beras yang rencana di datangkan dari Jatim tersebut merupakan beras impor, gubernur belum bisa berkomentar lebih jauh, sebab pihaknya ingin mendengar terlebih dahulu alasan langsung dari pihak Bulog yang ingin mendatangkan beras asal Jatim.