Bayan, Dimana Harmonisasi Manusia Dengan Alam Terpelihara

Diskusi tetua adat Bayan dengan Media (kicknews)
Diskusi tetua adat Bayan dengan Media (kicknews)

kicknews.today Bayan, Lombok Utara – Lestari alamku lestari desaku /Dimana Tuhanku menitipkan aku /Nyanyi bocah-bocah di kala purnama/Nyanyikan pujaan untuk nusa/Damai saudaraku suburlah bumiku/Kuingat ibuku dongengkan cerita/Kisah tentang jaya nusantara lama/Tentram kartaraharja di sana.

Lirik lagu almarhum Gombloh berjudul Lestari Alamku itu langsung melekat di kepala ketika kicknews dan beberapa kawan media yang melakukan kunjungan lapangan dalam acara Field Trip Media ke Bayan bersama LSM Somasi NTB, Minggu (17/1) saat masyarakat setempat menjelaskan tentang kelestarian hutan adat yang mereka kelola dan jaga.

Salah seorang tokoh pemuda dan penggiat budaya Bayan, dari Desa Bayan Timur, Raden Sawenggih mengatakan bahwa desanya tak pernah kekurangan air, karena ada aturan adat yang menjaga hutan mereka dari kerusakan.

“Hutan kami telah menyediakan mata air sehingga air berlimpah dan terus mengalir hingga desa ini tetap lestari.” katanya.

Bayan memang masih memiliki hutan yang masih hijau yang mengelilinginya dan menjaga sumber air yang berlimpah bagi masyarakatnya.

“Hutan-hutan disekitar desa di Bayan, merupakan hutan adat yang dijaga benar keberadaannya oleh masyarakat Bayan,”lanjutnya.

Hutan Adat masyarakat Bayan yang disebut dengan nama Huta Adat Mandala, berada di tengah-tengah desa, dikelilingi oleh hijau suburnya persawahan.

Hutan adat yang luasnya kira-kira 10,5 hektare itu sangat disadari pentingnya hutan untuk penghidupan desa.

“Oleh karena itu hutan ini dilindungi terus menerus, turun-menurun. Hutan ini dilindungi dengan sistem adat sehingga setiap masyarakat Bayan mau tak mau harus tunduk pada aturan adat untuk menghormati dan menjaga keberadaan hutan,”imbuh Sawenggih.

Awiq-awiq atau aturan adat pun dibuat oleh masyarakat adat Bayan untuk menjaga hutan mereka yang mencakup tentang pengelolaan hutan adat dan juga sumber mata air di dalamnya.

Di dalamnya terdapat juga larangan dan sanksi bagi yang melanggarnya. Sanksi adat inilah yang mampu meredam segala bentuk perusakan hutan, sehingga kelestariannya masih bisa dirasakan hingga saat ini.

“Sangsinya mulai dari sangsi ringan hingga sangsi berat, mulai dari denda seperti satu ekor kerbau sampai sanksi sosial yang berat yaitu mengucilkan pelaku dan tidak mengakui mereka sebagai bagian dari masyarakat adat,”jelasnya.

Terbukti dengan awiq-awiq tersebut, masyarakat terus menghormati keberadaan hutan di Bayan. Kelestarian inilah yang kemudian menjaga keberlangsungan air yang membawa kemakmuran bagi masyarakat Bayan.

Setelah ditelisik lebih jauh, tenyata yang menikmati air tersebut buakan hanya masyarakat adat Bayan saja, namun sumber mata air itu digunakan oleh PDAM sebagai sumber airnya yang dipakai oleh seantero masyarakat yang ada di Lombok Utara.

“Jadi manfaat dari hutan yang kami jaga dengan kekokohan adat ini tidak hanya kami masyarakat disini (Bayan-red) yang dapat menikmati, tapi juga memberi manfaat bagi masyarakat luas” imbuhnya.

Dirinya bahkan membandingkan hutan negara yang dijaga oleh polisi hutan bersenjata, pohonnya selalu dicuri dan dibabat, sedangkan hutan yang tanpa dijaga namun ada kesadaran secara adat dari masyarakat, justeru lebih terpelihara.

“Di hutan adat kami tidak ada kami dengar istilah ilegal loging atau semacamnya” akunya.

Dia mengatakan, bahwa dalam masyarakat adat, ada hukum tidak tertulis yang disepakati oleh semua warganya, selain itu kesadaran akan fungsi hutan dan rasa syukur kepada pencipta serta kewajiban untuk menjaganya juga telah tertanam dalam sanubari mereka secara turun temurun.

Bagaimana pemerintah menyikapi keberadaan mereka sebagai masyarakat adat?

Hal itu terjawab dari diskusi panjang kami (media) dengan para tetua adat di sana yang pada kesimpulannya mereka merasa bahwa pemerintah memang telah dekat dengan kehidupan masyarakat adat, namun itu hanya sekedar pada tatanan festival-festival untuk promosi wisata.

“Kami diakui, namun jarang diperhatikan, kami ingin ada pengakuan tertulis dari pemerintah Daerah mengenai eksistensi kami sehingga ada perlindungan dari hak-hak kami secara adat dari pemerintah” kata Denda Kusumawati, Tokoh perempuan di Desa adat Bayan.

Hingga kini, Bayan masih agung dengan latar belakang Gunung Rinjani yang menaunginya dan kelestarian adat, budaya serta hutan yang hijau mempesona.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat