Antisipasi Kenaikan Harga, Bulog NTB Datangkan 7000 Ton Beras Dari Jawa Timur

"Rencana beras dari Jatim itu akan tiba hari Kamis (21/1). Itu bukan beras impor, tapi beras komersial untuk stok, bukan untuk disalurkan menjadi raskin," kata Hubungan Masyarakat (Humas) Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Nusa Tenggara Barat (NTB) Marlinda (net)
“Rencana beras dari Jatim itu akan tiba hari Kamis (21/1). Itu bukan beras impor, tapi beras komersial untuk stok, bukan untuk disalurkan menjadi raskin,” kata Hubungan Masyarakat (Humas) Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Nusa Tenggara Barat (NTB) Marlinda (net)

 

kicknews.today Mataram – Perum Badan Urusan Logistik Nusa Tenggara Barat akan mendatangkan beras komersial dari Jawa Timur (Jatim) sebanyak 7.000 ton dalam rangka mengantisipasi kenaikan harga dan kekurangan stok di daerah ini.

“Rencana beras dari Jatim itu akan tiba hari Kamis (21/1). Itu bukan beras impor, tapi beras komersial untuk stok, bukan untuk disalurkan menjadi raskin,” kata Hubungan Masyarakat (Humas) Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Nusa Tenggara Barat (NTB) Marlinda, di Mataram, Senin (18/1).

Menurut dia, beras komersial yang didatangkan dari Bulog Jatim tersebut merupakan bagian dari program pemerataan stok beras secara nasional dalam rangka menjaga ketersediaan dan stabilitas harga beras di masing-masing daerah.

Di Bulog Divre NTB sendiri, kata Marlinda, stok beras komersial hasil pengadaan pada 2015 sebanyak 73 ribu ton sudah habis terjual, sedangkan pengadaan beras hasil produksi petani saat ini baru mencapai 255 ton, yang berasal dari Kabupaten Bima 105 ton, Sumbawa 105 ton dan Kota Mataram 45 ton.

Pihaknya menargetkan pengadaan beras pada 2016 sebanyak 211 ribu ton. Angka itu hampir sama dengan target pada tahun sebelumnya.

Upaya untuk mencapai target tersebut adalah menjalin kontrak dengan mitra kerja pengadaan, baik dengan pengusaha dan gabungan kelompok tani yang tersebar di 10 kabupaten/kota di NTB.

Untuk target pengadaan selama Januari 2016 sebanyak 500 ton karena panen masih terjadi secara sporadik di beberapa sentra produksi yang memiliki jaringan irigasi teknis.

Target pengadaan setiap bulan akan terus meningkat karena terjadi panen padi setiap bulan dan puncaknya pada April 2015.

“Nanti di Februari kami targetkan pengadaan 10 ribu ton, naik lagi menjadi 25 ribu ton pada Maret, dan puncaknya nanti pada April dengan target pengadaan sebanyak 50 ribu ton, kemudian pada Mei turun menjadi 45 ribu ton karena panen mulai berkurang,” katanya.

Meskipun saat ini stok beras yang ada di gudang hanya cukup untuk dua bulan, Marlinda menegaskan, NTB tidak mendapatkan pasokan beras yang diimpor pemerintah dari Vietnam.

“Tidak ada beras impor yang masuk ke NTB, hanya beras komersial dari Jatim, itu pun bukan untuk raskin,” katanya. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat