in ,

Lama Buron, Mantan Ketua DPD Nasdem NTB Tertangkap

Darmawan Mantan Ketua DPD Partai Nasional Demokrat NTB
Darmawan Mantan Ketua DPD Partai Nasional Demokrat NTB
Darmawan Mantan Ketua DPD Partai Nasional Demokrat NTB

kicknews.today Mataram -Pelarian terpidana kasus pemalsuan surat jual beli tanah Darmawan berakhir. Mantan Ketua DPD Partai Nasional Demokrat (Nasdem) NTB ini dibekuk tim intelijen Kejaksaan Agung (Kejagung) di Bali, Sabtu (16/1) kemarin.

Darmawan yang mengenakan kemeja corak hitam putih tertangkap saat bersantai di Hotel Dewata Jalan Nangka Denpasar, Bali. Kini, terpidana telah dijeblokan ke Lembaga Pemasyarakat (Lapas) Mataram.

”Darmawan ditangkap di Intelijen Kejagung di Bali,” kata Kajari Mataram Rodiansyah dihubungi, kemarin.

Pelapor kasus suap Bupati Lobar nonaktif Zaini Arony sudah lama diburu. Berbulan-bulan, Darmawan mengelabui petugas kejaksaan. Ia bersembunyi dari tempat ke tempat. Sehingga, kejaksaan kesulitan melacak keberadaannya.

”Terpidana ini kami buru berbulan-bulan dan akhirnya ketangkap juga,” jelasnya.

Tertangkapnya Darmawan ini berkat informasi yang didapat tim Intelijen Kejagung. Laporan yang diterima petugas dicek kebenarannya. Mereka bergegas ke Hotel Dewata.

Rupanya, informasi tersebut benar adanya. Dari daftar tamu yang menginap di hotel terdapat nama Darmawan. Tidak ingin buruannya lepas, tim kejagung bergerak menuju kamar yang dihuni Darmawan.

”Darmawan ditangkap sekitar pukul 07.30 Wita,” ujarnya.

Setelah membuat Darmawan tidak berkutik, petugas mengevakuasi Darmawan dari hotel, lalu membawanya ke markas Kejati Bali. Disitu, kata Rodiansyah, terpidana sempat amankan beberapa jam.

”Setelah ditangkap Darmawan dibawa ke Kejati Bali,” ungka Rodiansyah.

Sekitar Pukul 15.00 Wita, Darmawan diterbangkan dari Bali menuju Lombok Internasional Airport (LIA). Ia dikawal juru bicara Kejati NTB I Made Sutapa dan anggota intelijen Kejati NTB Agung kusimantara.

”Darmawan tiba di Bandara (LIA) sekitar pukul 16.00 Wita,” sebutnya.

Setiba di Bandara, Darmawan disambut tim penjemputan dari Kejati NTB dan Kejari Mataram. Tim dipimpin Wakajati NTB Baharudin Arifin dan Kajari Mataram Rodiansyah.

Penjemputan Darmawan mendapat pengawalan ekstra dari petugas kejaksaan. Bahkan, anggota kepolisian bersenjata laras panjang ikut dilibatkan.

Tidak hanya itu, menghindari terpidana melarikan diri petugas terpaksa memborgol tangan mantan politisi Nasdem ini. Borgol yang mengikat kedua tangannya baru dibuka ketika berada di Lapas Mataram.

”Kami langsung bawa Darmawan menuju Lapas Mataram untuk dilakukan Eksekusi terhadap terpidana,” akunya.

Ia menambahkan, dari proses penangkapan hingga eksekusi berjalan lancar dan aman. Terpidana sama sekali tidak memberikan perlawanan terhadap petugas.

”Tidak ada perlawanan dari terpidana,” ujarnya.

Dalam kasus pemalsuan ini putusan terhadap terpidana Darmawan sudah inkrah. Hakim Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi yang dilayangkan Darmawan. Kepastian itu tertuang dalam amar putusan nomor 836K/PID/2013 tertanggal 12 November 2013.

Hakim Ketua Salman Luthan, serta Hakim Anggota T Gayus Lumbuun dan HM Imron Anwari tetap menghukum Darmawan dengan pidana penjara selama dua tahun.

Dalam petikan putusan itu, Darmawan dinyatakan bersalah dan terbukti bersalah melanggar pasal 263 ayat 2 KUHP junto pasal 55 ayat 1 KUHP dan pasal 264 ayat 2 KUHP tentang penggunaan surat palsu secara terus menerus. Hukuman yang diterima terdakwa itu sesuai dengan putusan hakim pengadilan negeri (PN) Mataram tanggal 25 September 2012. Pada putusan nomor  perkara 243/PID.B/2012/PN.MTR terdakwa dihukum dua tahun penjara.

Keberatan dengan putusan pengadilan tingkat pertama, Darmawan bersama kuasa hukumnya sempat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Mataram. Pada tingkat banding, hakim yang menangani perkara dengan nomor 114/PID/2012/PT.MTR tanggal 3 April 2013 kembali menghukum Darmawan. Dia tetap dinyatakan salah.

Usaha Darmawan untuk menempuh jalur hukum belum usai. Dia yang bersengketa dengan Kompyang Wisastra Pande atas sengketa lahan berupa tanah seluas 31 Are di Kekalik Mataram menempuh jalur kasasi. Hanya saja, usahanya tidak membuahkan hasil. Darmawan kembali menelan kekalahan dan hakim MA memutuskan untuk menghukum terdakwa.^