Kapolda NTB : Usut Tuntas Pelaku Penganiayaan Dan Pengrusakan Di SMUN 2 Pujut

ruang kelas yang dirusak warga akibat buntut dari aksi pemalakan yang dilakukan oleh beberapa orang siswa (kicknews)
ruang kelas yang dirusak warga akibat buntut dari aksi pemalakan yang dilakukan oleh beberapa orang siswa (kicknews)

kicknews.today Mataram – Kapolda NTB Brigjen Pol Drs Umar Septono, SH. MH memerintahkan Polres Lombok Tengah untuk mengusut tuntas kasus pengerusakan fasilitas sekolah SMUN 2 Pujut Kabupaten Lombok Tengah yang terjadi kemarin, Senin (11/1).

Ratusan orang massa yang diketahui berasal dari Dusun Pengeleng, Desa Sukadana, Pujut beserta keluarga Suhaili, (18), murid SMAN 2 Pujut, Lombok Tengah mengamuk dan merusak ruangan serta fasilitas sekolah. Diduga, massa kesal dan emosi lantaran Suhaili dipalak dan dianiaya teman sekolahnya.

“Ia (Kapolda) memerintahkan pelaku penganiayaan dan pengerusakan diusut. Jangan sampai gejolak ini terus melebar dan menimbulkan kegaduhan lagi,” kata Kabidhumas Polda NTB AKBP Tribudi Pangastuti,  mengutip perintah jenderal bintang satu tersebut, kemarin.

Awalnya, pengerusakan dilakukan sekitar 40 orang. Mereka datang menggunakan 20 unit sepeda motor dan merusak SMAN 2 Pujut. Berselang beberapa menit, massa sekitar 100 orang datang menggunakan kendaraan dumptruck dan ikut merusak sekolah tersebut.

Akibatnya, sepuluh ruang laboratorium komputer rusak, enam kaca jendela, meja, dan kursi rusak, enam kaca jendela ruang guru pecah, 15 kaca jendela kelas rusak, dan gerbang sekolah ikut dirusak.

Menurut Tribudi, pengerusakan tersebut dipicu kemarahan keluarga salah satu murid sekeloh setempat. Mereka tidak terima murid yang diketahui bernama Suhaili dianiaya dan dipalak, Sabtu (9/1).

”Keterangan salah seorang gurunya, Suhaili dipalak dan dianiaya rekan sekolahnya. Keluarganya marah dan merusak sekolah tersebut,” terang dia.

Kabarnya, Suhaili dianiaya dan dipalak rekannya masing-masing berinisial VR, 16 tahun, Desa Bangkat Parak; US, 16 tahun, Desa Truwai, dan JU, 16 tahun, Desa Teruwai. Ketiganya itu rekan satu sekolah korban.

Tribudi mengaku, dari keterangan salah seorang guru, pihak sekolah sudah berusaha memediasi keluarga Suhaili. Namun, massa yang terlanjur emosi dengan spontan merusak sarana dan fasilitas sekolah.

”Polres Loteng berhasil meredam emosi warga dan meminta kembali ke kampungnya,” kata Tribudi. Polres setempat juga sedang mempersiapkan mediasi terhadap kasus penganiayaan. Rencananya, mediasi dilaksanakan di mapolres untuk menghindari gejolak.

”Kasus penganiayaan tetap ditangani, mediasi juga tetap diupayakan,” tegas dia.

”Pak Kapolda sudah perintahkan diusut. Kita tidak boleh kalah dengan kekuatan massa yang tidak taat hukum,” pungkasnya.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat