BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Kabupaten Nduga Papua KLB Penyakit Batuk Rejan

ilustrasi - Penyakit Batuk rejan, atau batuk seratus hari atau pertusis (bahasa Inggris: Whooping Cough), adalah satu penyakit menular. (net)
ilustrasi – Penyakit Batuk rejan, atau batuk seratus hari atau pertusis (bahasa Inggris: Whooping Cough), adalah satu penyakit menular. (net)

kicknews.today Wamena – Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit pertusis atau batuk seratus hari (bahasa Inggris: Whooping Cough) di Mbua, Kabupaten Nduga, terus memakan korban para balita dan anak-anak di wilayah itu.

Staf Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga Ahmad kepada Antara di Wamena, Senin, mengatakan hingga kini korban meninggal akibat terserang penyakit pertusis di tiga distrik (kecamatan) di wilayah Mbua, Kabupaten Nduga sudah 55 orang.

Lima balita diketahui meninggal pada periode 24 Desember 2015 hingga awal Januari 2016.

“Terakhir ada lima balita yang meninggal. Beberapa hari lalu ada satu bayi meninggal yang dibakar oleh keluarganya. Kematian balita di Mbua masih terus berlanjut hingga sekarang,” tutur Ahmad.

Menurut dia, keterbatasan tenaga kesehatan dan fasilitas pendukung menjadi kendala utama penanganan KLB penyakit pertusis di Mbua, Kabupaten Nduga.

“Di Puskesmas Mbua hanya ada satu perawat dan dua bidan eks misi. Kondisi geografis di sana juga sangat sulit. Kami dari Dinkes Nduga turun membantu Puskesmas Mbua untuk menangani masalah ini,” ujarnya.

Ahmad mengatakan tiga distrik di wilayah Mbua yang terserang penyakit pertusis itu sangat jauh letaknya dari Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga.

Perjalanan ke Mbua dari Kenyam membutuhkan waktu selama satu minggu melalui jalan setapak melewati hutan belantara dengan medan berat menyusuri gunung-gunung terjal dan sungai-sungai besar.

Alternatif lain menuju Mbua menggunakan pesawat terbang dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dari Kenyam.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua drg Aloysius Giyai mengatakan kasus KLB penyakit pertusis di Mbua, Kabupaten Nduga terungkap melalui pemberitaan media massa. Aloysius mengaku hingga kini belum pernah menerima laporan resmi dari Dinkes setempat soal jumlah korban meninggal akibat KLB penyakit pertusis di Mbua tersebut.

“Setelah kami berkoordinasi dengan Dinkes Nduga, diketahui bahwa kematian balita di Mbua masih terus berlanjut hingga saat ini,” katanya.

Aloysius menyesalkan kejadian tersebut lantaran seharusnya bisa diantisipasi atau dapat ditanggulangi sejak awal.

“Sebagai anak daerah, kami sedih dan menyesal. Kalau kejadian ini terjadi akibat kegagalan jajaran kesehatan, kami mohon maaf,” kata Aloysius.

KLB penyakit pertusis di Mbua, Kabupaten Nduga itu, katanya, memberikan pelajaran yang sangat penting bagi semua pihak untuk tanggap melakukan pencegahan preventif.

Upaya pencegahan preventif terhadap suatu penyakit, katanya, bukan sekedar menjadi tanggung jawab jajaran kesehatan, tetapi semua komponen terkait.

“Masyarakat perlu rumah sehat, perlu air bersih, perlu makanan yang bergizi. Harus ada kesungguhan dari Pemda setempat melalui bupati, wakil bupati, DPRD dan lainnya untuk menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya.

Sesuai data tim Kemenkes dan Dinskes Provinsi Papua yang melakukan kunjungan ke Mbua, Kabupaten Nduga belum lama ini, jumlah korban meninggal akibat KLB di wilayah itu tercatat sudah mencapai 52 orang balita.

Namun dari laporan tim yang melibatkan tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama di Nduga, jumlah balita yang meninggal sudah lebih dari 70 orang sejak Oktober 2015 hingga Januari 2016. (ant)


Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About kicknews. today

Dalam Kategori Ini

TGB Diharapkan Bantu Pecahkan Masalah Freeport

  Timika – Dorongan kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), TGH M Zainul Majdi untuk ...