BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Ketika Sampah Makin Bermasalah, Teknologi Jepang Siap Membantu

ilustrasi - Kunjungan Walikota Osaki, Higasi Yasuhiro beserta rombongan usai bertemu dengan Walikota Depok (27/9) (net)

ilustrasi – Kunjungan Walikota Osaki, Higasi Yasuhiro beserta rombongan usai bertemu dengan Walikota Depok (27/9) (net)

ceritakita.kicknews.today – Kota Mataram di awal Januari ini terlihat kumuh, wajahnya muram, aromanya suram.  Pemandangan tak menarik dipandang mata tampak dihampir semua wilayah kota yang terkenal dengan jargon Kota Ibadah itu.

Sumber masalahnya adalah sampah, tapi permasalahan yang dihadapi kota Mataram juga menjadi masalah yang menghantui kota-kota besar di dunia.

Permasalahan sampah seolah tidak pernah ada habisnya. Bahkan di Jakarta jalan-jalannya tidak ada satu pun yang benar-benar bebas dari sampah.

Sampah dari DKI Jakarta, misalnya, volumenya dalam satu hari mencapai 6.000–6.500 ton. Jumlah ini bertambah setiap tahunnya seiring dengan angka pertumbuhan penduduk.

Tidak heran jika tempat pembuangan akhir (TPA) pun tidak pernah cukup untuk menampung sampah setiap harinya.

Selain itu, masalah sampah juga kerap menimbulkan konflik antara masyarakat yang tinggal di sekitar TPA dan pemerintah.

Masyarakat sering kali merasa terganggu dengan adanya TPA, padahal pemerintah pun tidak ada pilihan lain selain menempatkan sampah kota di sana.

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Isnawa Adji menyatakan Provinsi DKI Jakarta seharusnya mempunyai kemandirian dalam penanganan sampah.

“Misalnya, saat truk sampah milik Pemprov DKI Jakarta dihadang warga selama 3 hari berturut-turut di daerah Cileungsi, ada sekitar 5.000 ton sampah yang tidak terangkut. Saat itu Jakarta sangat kewalahan dan butuh waktu 1 minggu untuk menormalkannya kembali,” katanya di Jakarta, Rabu (6/1).

Ia mengatakan hal itu dalam Diskusi Panel dan Media Gathering “Teknologi Sampah Jepang Siap Menyulap Indonesia” yang digagas oleh Alliance of Low Carbon Business (ALBI) dan Gikoko Kogyo Indonesia dengan dukungan Kedubes Amerika Serikat dan Kedubes Inggris.

Menurut dia, seharusnya DKI Jakarta sudah membangun tempat pengolahan sampah terpadu dalam kota (intermediate treatment facilities/ITF) empat atau lima tahun yang lalu.

“Sudah harus dibangun, kan rencananya ada di empat lokasi, yaitu di Duri Kosambi, Sunter, Cakung-Cilincing, dan Marunda. Misalnya, di Sunter nantinya bisa mengolah sampah 1.000 ton per hari,” kata Adji.

Penanganan sampah akan efektif, menurut dia, apabila dimulai dari bagian paling bawah atau sumber dari sampah tersebut berasal.

“Saya harapkan kepada warga, RT, RW, sampai kelurahan untuk mengelola bank sampah dengan baik karena sangat membantu kami dalam mengurangi volume sampah ke TPST Bantar Gerbang,” ucap Adji.

Belum Efektif Dalam kesempatan yang sama, Pucuk Pimpinan Manajemen (CEO) Perusahaan Pengolahan Sampah asal Jepang, Gikoko Kogyo Indonesia, Joseph Wu Chao Wang mengatakan belum ditemukan cara yang cukup efektif untuk mengolah sampah yang sudah menumpuk sekian lama di TPA.

“Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi masalah sampah. Namun, sejauh ini baru pada tahap mengurangi volume sampah kota,” ujarnya.

Menuru dia, ada beberapa teknologi pengolahan sampah yang bisa dipilih untuk mengatasi permasalahan sampah di Indonesia.

“Untuk itu, sebaiknya pemerintah meminta masukan dari berbagai pihak, seperti LSM atau pakar lingkungan hidup, mengenai teknologi apa yang cukup bijak untuk digunakan di Indonesia,” katanya.

Ia menyatakan bahwa pemerintah sebaiknya melakukan pertimbangan yang sangat matang sebelum memutuskan akan menggunakan teknologi tertentu.

“Teknologi tertentu untuk mengolah sampah memang terdengar sangat efektif. Namun, belum tentu bebas dari dampak negatif. Misalnya, teknologi untuk mengolah sampah menjadi energi,” tuturnya.

Kendati demikian, kata dia, tidak selamanya teknologi untuk mengolah sampah menjadi energi itu memberi dampak positif.

Sebagai contah, Joseph mengatakan insinerasi dengan alat yang disebut insinerator memiliki dampak negatif untuk lingkungan dan kesehatan.

“Insinerator menghasilkan emisi dan melepas pencemar organik persisten berupa dioksin dan furan, karbon dioksida yang signifikan serta pencemar lainnya seperti merkuri, timbal, arsenik, dan cadmium,” kata Joseph.

Terkait dengan kesehatan, lanjut dia, pencemar itu dapat mengakibatkan penyakit pernapasan (infeksi saluran pernapasan akut/ISPA), kanker, dan bayi lahir cacat.

“Lepasan dari insinerator juga mengandung partikel halus yang dapat dengan mudah masuk ke dalam rantai makan dan berbagai jalur lain,” tuturnya.

Meski menggunakan teknologi insinerator, kata dia, TPA juga tetap dibutuhkan karena residu atau sisa pembakaran dengan teknologi ini masih berjumlah 25–30 persen dari jumlah sampah.

“Sisa pembakaran ini bahkan mengandung racun yang lebih berbahaya daripada sampah asalnya dan masih membutuhkan tempat untuk membuangnya,” ucapnya.

Menurut Joseph, dampak negatif itu memang tidak terjadi dalam waktu singkat.

“Satu atau dua dekade kemudian dampak ini baru terlihat. Generasi penerus kita lah yang akan merasakan dampaknya. Tentunya kita tidak ingin mengalami kehilangan generasi hanya karena masalah sampah bukan?” kata Joseph.

Insinerasi sendiri pada dasarnya adalah oksidasi bahan-bahan organik menjadi bahan anorganik. Prosesnya sendiri merupakan reaksi oksidasi cepat antara bahan organik dan oksigen.

Ia mengatakan bahwa pemerintah wajib melakukan sosialisasi tentang kesehatan publik dan lingkungan yang diakibatkan oleh pengolahan sampah menggunakan insinerator.

“Sebelum menggunakan teknologi itu, sebaiknya pemerintah melakukan kajian risiko kesehatan terlebih dahulu dan menginformasikan kepada masyarakat luas,” katanya.

Menurut Joseph, apabila pemerintah tetap memilih untuk menggunakan teknologi insinerator, pemerintah wajib menyediakan anggaran kesehatan lebih untuk masyarakat yang berisiko tinggi terkena dampaknya, baik secara preventif maupun kuratif.

Carbonizer Joseph menyatakan bahwa pihaknya sudah menciptakan sebuah alat bernama “carbonizer” yang akan ditempatkan di masing-masing rukun tetangga (RT). Alat ini dapat mengurangi sampah yang masuk ke TPA dan tidak berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.

“Selain itu, bisa mengurangi operasional TPA dan juga dapat mengurangi gas rumah kaca pada TPA,” ujarnya.

Joseph mengatakan bahwa hasil pengolahan sampah dari alat “carbonizer” itu dapat menghasilkan arang untuk bahan bakar cadangan dan campuran kompos.

“Selain itu, pengurangan sampah dari alat ini pada permukiman dapat mengurangi hama penyakit dan pembakaran sampah oleh warga,” katanya.

Dalam alat itu, kata dia, kalori dalam plastik dan limbah biomassa menyediakan energi untuk mendukung dekomposisi termal sehingga dapat menghemat penggunaan bahan bakar selama 8 jam.

Selain itu, kata dia, dalam alat itu terdapat “superheated steam” yang menggunakan uap plastik syngas yang dapat meningkatkan efisiensi perpindahan energi melalui peningkatan konduksi dan hidrotermal menghancurkan dioksin.

“Lebih dari 70 persen pengurangan limbah menjadi arang biomassa dan 98 persen pengurangan sampah pada platisk PP/PE menjadi syngas,” ucap Joseph.

Ia menambahkan bahwa pengolahan sampah memang menjadi pekerjaan rumah bagi siapa saja, baik pemerintah, masyarakat sendiri, LSM, pihak swasta, maupun warga masyarakat sendiri.

Namun, kata dia, sebagai pembuat kebijakan sudah semestinya pemerintah dengan masukan dari berbagai pihak menerapkan cara yang aman untuk digunakan.

“Tidak hanya berpihak atau hanya mempertimbangkan pendapat satu golongan saja, tetapi sebaiknya memilih menggunakan teknologi yang benar-benar ramah lingkungan sehingga mampu meminimalkan risiko yang merugikan masyarakat,” katanya.

Joseph juga menyatakan bahwa untuk mendapat pengolahan sampah yang bagus, dukungan masyarakat juga sangat diperlukan.

“Selain memilah sampah yang mereka buang, peranan yang sangat penting lainnya adalah warga membantu untuk perbaikan lingkungan, misalnya dengan cara pembayaran retribusi pada sampah,” tuturnya.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About kicknews. today

Dalam Kategori Ini

Berjualan Tanpa Izin, PKL Liar di Sandubaya Mataram Ditertibkan

  kicknews.today – Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) bersama sejumlah tim penertiban Kota Mataram pada ...