Tidak Kompatibel, Program Konversi Elpiji Pengusaha Tempe Di Tunda

ilustrasi
ilustrasi

 

kicknews.today Mataram – Badan Lingkungan Hidup Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menunda program konversi bahan bakar ke elpiji kepada pengusaha tahu dan tempe di Kelurahan Kekalik Jaya karena kondisi saat ini tidak kompatibel dengan teknis dalam pemasangannya.

“Jika kita paksakan untuk melakukan konversi, dikhawatirkan elpiji yang akan diberikan akan mangkrak atau tidak terpakai oleh para pengusaha,” kata Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Mataram M Saleh di Mataram, Jumat (4/12).

Karena itu, untuk melaksanakan program konversi pihaknya terlebih dahulu akan melakukan kajian teknis terhadap sistem yang dinilai serasi dengan alat yang akan disediakan.

“Dan sebenarnya, kami telah ditawarkan sistem gas yang dinilai serasi untuk para pengusaha tahu tempe, namun pengusahnya dari luar kota yakni di Yogyakarta,” katanya.

Akan tetapi, lanjutnya, kalaupun pihaknya harus memesan gas itu drai pengusaha di Yogyakarta waktu yang tersisa di tahun anggaran ini tidak bisa mencukupi.

Pasalnya, anggaran konversi yang dialokasikan dalam perubahan APBD 2015 sebesar Rp50 juta baru dapat terealisasi dipenghujung tahun anggaran.

Sementara untuk mendapatkan sistem gas yang kompatibel dari Yogyakarta harus dipesan terlebih dahulu, sedangkan pemesanan butuh waktu yang relatif lama apalagi dalam jumlah banyak.

“Dengan demikian, apa iya kita harus memaksakan program ini tetapi hasilnya tidak optimal,” katanya.

Untuk itu, lanjutnya, daripada pihaknya melaksanakan program tetapi tidak bisa dimanfaatkan, BLH lebih memilih menunda program tersebut hingga tahun 2016 agar pelaksanaanya bisa maksimal.

“Intinya, saya lebih baik menjadikan anggaran sebesar Rp50 juta itu menjadi sisa lebih perhitungan anggaran (Silpa),” katanya.

Mantan Camat Selaparang ini mengakui, bahwa dari sisi lingkungan, konversi elpigi bagi pengusaha tahu tempe cukup bagus sebab tidak ada limbah yang dibuang ke saluran sehingga tidak mencemari lingkungan begitu juga dengan asap pembakaran.

“Namun dari sisi ekonomi, proses pembakaran dengan menggunakan limbah pertanian seperti kayu dan sekam, bisa lebih menguntungkan bagi mereka,” katanya.

Selama ini, menurut dia, pengusaha menggunakan tungku karena mereka menggunakan panci dengan ukuran jumbo, sementara saat ini belum ada kompor gas yag sesuai dengan kebutuhan pengusaha tahu tempe. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat