319 Kasus HIV/AIDS Mataram Didominasi Usia Produktif

ilustrasi
ilustrasi

 

kicknews.today Mataram – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Mataram mencatat jumlah HIV/AIDS di daerah ini sejak 2001-2015 mencapai 319 kasus yang didominsai usia produktif.

“Sebanyak 319 kasus tersebut terdiri atas 166 kasus HIV dan 153 AIDS serta terdapat 97 kasus kematian,” kata Sekretaris I KPA Kota Mataram dr Margaretha Cephas di Mataram, Rabu (2/12).

Dikatakan dari 166 kasus HIV dan 153 AIDS didominasi usia prduktif dan kaum laki-laki. Untuk HIV laki-laki 67 persen atau 111 orang sedangkan perempuan 55 orang atau 33 persen.

“Sedangkan kasus AIDS sebanyak 104 laki-laki atau 68 persen sedangkan perempuan 49 orang atau 32 persen,” katanya.

Menurut dia, secara komulatif jumlah kasus HIV yang lebih banyak dibandingkan dengan AIDS itu memang sesuai dengan harapan. Artinya, dengan lebih tingginya temuan kasus HIV mengindikasikan jangkauan pelayanan semakin bagus.

Sebaliknya, jika kasus AIDS ditemukan lebih banyak indikasinya jangkuan pelayanan dari petugas lapangan, kader peduli AIDS dan populasi kunci atau orang-orang berisiko tinggi terhadap HIV/AIDS seperti pekerja seks komersil (PSK), “pelanggan”, narkoba, homoseksual dan lainnya tidak bergerak atau kurang memberi respon terhadap program penanganan yang dilakukan pemerintah.

“Kasus AIDS yang menyerang sistem kekebalan tubuh akan terlihat lima tahun ke depan, sehingga penanganan HIV cepat maka kasus AIDS akan menurun,” sebutnya.

Margaretha Cephas mengatakan, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tersebut kini berada di rumah masing-masing namun tetap mengikuti berbagai program pemeriksaan secara rutin dan gratis di lima puskesmas layanan komprehensif berkesinambungan (LKB) serta CST (care support and treatment) di RSUD Mataram.

“Jika mereka disiplin meminum obat yang diberikan secara gratis, maka harapan hidup mereka bisa normal,” katanya.

Namun demikian, lanjutnya, kasus kematian sebanyak 97 kasus HIV/AIDS di Kota Mataram disebabkan adanya penyakit ikutan yang diderita ODHA yang biasa disebut “infeksi oportunistik”.

Hal itu, kata dia, terjadi karena kekebalan tubuhnya turun, maka kuman-kuman dikulit bisa menjadi ganas, seperti kanker, pembengkakak kelenjar, diare yang tidak pernah sembuh dengan berbagai jenis obat dan akhirnya meninggal.

“Secara nasional kondisi tahun 2015, ditemukan juga kasus TBC dengan HIV dan bisa disebut kolaborasi TB dan HIV. Inilah yang harus kita tangani segera,” katanya.

Terkait dengan itu, pihaknya sangat berharap agar peran serta dari masyarakat, dan aparat mulai dari lingkungan, kelurahan dan kecamatan agar aktif menemukan polulasi kunci sebagai upaya pencegahan AIDS di kota ini. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat