Tarung Tradisional PERESEAN Dilarang, Krama Adat Ajak Selly Duduk Bersama

Tarung Tradisional PERESEAN (kicknews foto : imran putra sasak)
Tarung Tradisional PERESEAN (kicknews foto : imran putra sasak)

 

kicknews.today Mataram – Ketua Majelis Krama Adat Sasak Jalaludin Arzaki akan mengajak Penjabat Wali Kota Mataram Hj Putu Selly Andayani duduk bersama untuk membahas larangan terhadap kegiatan “presean” di kota ini.

“Kita akan mengajak ibu penjabat wali kota agar bisa menjelasakan tentang budaya permainan ‘presean’ sehingga kegiatannya di kota ini tidak dilarang,” katanya kepada jurnalis di Mataram, Selasa.

Pernyataan itu dikemukakannya menanggapi pernyataan penjabat wali kota yang melarang keras kegiatan pertarungan presean yang digelar pada sejumlah lapangan atau taman di kota ini.

Bagi penjabat, larangan itu sudah harga mati karena presean mengandung unsur kekerasan sehingga tidak boleh dipertontonkan kepada anak-anak. Apalagi, Kota Mataram saat ini sedang menyiapkan diri menjadi sebuah kota layak anak (KLA) 2018.

Presean adalah sebuah pertarungan dua orang “pepadu” atau petarung di atas panggung dengan rotan sebagai alat pukul dan tameng sebagai alat untuk melindungi diri yang terbuat dari kulit ternak.

Jalaludin Arzaki menilai, sebenarnya sebagai seorang kepala daerah, tidak seharusnya larangan itu dilontarkan karena presean merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan dan diketahui oleh generasi muda termasuk anak-anak.

“Permainan ‘presean’ merupakan tradisi budaya komunitas Suku Sasak bukan milik pribadi sehingga harus dilestarikan, bukan dihilangkan,” katanya.

Sebagai seorang pecinta budaya daerah, ia berharap pemerintah daerah dapat mendukung pelestarian budaya apalagi Kota Mataram memiliki moto yang maju, religius dan berbudaya.

Kalau pun permainan itu dianggap tidak layak dipertontonkan untuk anak-anak karena terkesan keras, pihaknya siap menyusun awik-awiknya atau aturan adat.

Kalau memang anak-anak dilarang menonton permainan presean, maka pihaknya siap membina para penyelenggara presean dan memberlakukan larangan bagi penonton anak-anak.

“Artinya, memberikan izin hanya kepada kalangan remaja dan dewasa. Prinsipnya, kita siap memperketat aturan asalkan jangan hilangkan presean,” kata tokoh budaya Sasak ini.

Menurut dia, jika permainan presean dihapus, sama artinya menghilangkah permainan rakyat Suku Sasak sekaligus mematikan kesempatan untuk mencari rezeki bagi pepadu.

Menurut dia, permainan presean sudah menjadi ikon permainan kesenian yang digemari dunia.

“Saya sudah beberapa kali membawa rombongan pepadu ke Inggris dan mereka senang, padahal kita tahu kalau orang-orang barat antikekerasan,” ujarnya.

Ia mengatakan, secara umum presean ini sama juga dengan permaian “Sumo” dari Negara Jepang yang juga menunjukan kekerasan, tetapi tetap menjadi bagian permainan rakyat.

Begitu juga dengan permainan Karaci dari Sumbawa dan Parise dari Bima yang merupakan bagian aset budaya dan ikon daerah yang harus dilestarikan dan menunjukkan sebuah karakter keberanian.

Menurut Jalaludin yang juga seorang budayawan di Pulau Lombok ini, permaian presean dimainkan olah orang-orang yang sudah profesional dan menjunjung sportivitas.

Dia mengatakan, meskipun di atas panggung mereka saling pukul dengan rotan, tetapi setelah bertanding mereka akan bersalaman, berpelukan dan tidak ada saling benci apalagi dendam.

“Sebaliknya, setelah main, ke depan mereka pasti saling cari sebagai bentuk membangun persaudaraan dan mempererat tali silaturahim antarpepadu,” katanya.

Dalam pergelaran permainan presean panitia tetap memiliki awik-awik tertentu yang menentukan batasan-batasan badan bagian mana yang boleh dipukul oleh pemain. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat