BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Selly Larang Keras Pertarungan ‘PERESEAN’, Ini Harga Mati!

Tarung Tradisional PERESEAN (kicknews foto : imran putra sasak)
Tarung Tradisional PERESEAN (kicknews foto : imran putra sasak)

 

kicknews.today Mataram – Penjabat Wali Kota Mataram Hj Putu Selly Andayani melarang keras kegiatan pertarungan “presean” yang digelar pada sejumlah lapangan atau taman di kota ini.

“Saya tidakan akan memberikan izin pemanfaatan lapangan di kota ini untuk kegiatan ‘presean’. Ini sudah harga mati,” katanya menegaskan dalam rapat persiapan HUT NTB ke-57 di Mataram, Senin.

Presean adalah sebuah pertarungan dua orang “pepadu” atau petarung di atas panggung dengan rotan sebagai alat pukul dan tameng sebagai alat untuk melindungi diri yang terbuat dari kulit ternak.

Menurut dia, larangan kegiatan pertarungan presean itu karena presean memiliki unsur kekerasan yang tidak boleh dipertontonkan kepada anak-anak.

“Kita tidak mau, aksi saling pukul dengan rotan hingga babak belur itu dicontoh oleh anak-anak kita,” katanya.

Selly menegaskan, bahwa yang tidak dizininkannya adalah pertarungan persean, akan tetapi jika peresean itu menjadi seni atau ditampilkan untuk menyambut dan menghibur tamu atau wisatawan sah-sah saja.

“Kalau untuk seni, kenapa tidak. Silakan, karena itu merupakan bagian dari seni warisan budaya yang perlu dilestarikan,” katanya menerangkan.

Dikatakannya, larangan pertandingan presean di kota itu karena Mataram saat ini sedang mempersiapkan diri menjadi kota layak anak (KLA) tahun 2018.

Bahkan pada bulan Mei 2016 Kota Mataram akan menjadi tuan rumah kegiatan kongres anak dan forum anak tingkat nasional yang akan dihadiri sekitar 1.000 anak dari 34 provinsi di Indonesia.

“Jadi kita harus betul-betul mempersiapkan diri untuk itu, agar Rekor Muri antikekerasan tidak hanya simbol semata,” katanya.

Ia mengatakan, pada puncak peringatan Hari Anak Nasional tahun 2015, ribuan anak, masyarakat, pejabat dan pegawai di Kota Mataram telah melukiskan lima jari tangannya sebagai simbol stop kekerasan terhadap anak.

Oleh karena itu, dalam kongres anak mendatang, Kota Mataram akan menampilkan berbagai permainan anak-anak yang masih tradisional bersifat aktif, kreatif dan mendidik. Seperti permainan “jingklang”, “seleodor” dan kasti.

“Tujuannya, agar anak tidak hanya fokus bermain “game’ di ‘handphone’ atau sejenisnya yang akibatnya dia tidak peduli dengan teman di sekitarnya,” katanya.

Sebaliknya, lanjut Selly, melalui permainan yang mendidik dan kreatif, anak-anak dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak disekitarkan sehingga mampu membentuk karakter anak yang cerdas dan berahlak mulia.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About kicknews. today

Dalam Kategori Ini

Lombok Ibarat Emas Pariwisata, Sedikit Dipoles, Bali Lewat…

  kicknews.today Mataram, – Dekan Fakultas Musik dan Seni Persembahan Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) ...