BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Cinta Dan Ketakutan Alasan Seorang Ibu Percayakan Keluarganya Pada Penyelundup

pengungsi berusaha menerobos kawat penghalang (net)
pengungsi berusaha menerobos kawat penghalang (net)

 

kicknews.today Tripoli – Apa yang membuat seorang wanita membiarkan dirinya tenggelam dalam hutang supaya ia bisa mengirimkan keluarganya keluar negara? Cinta, ketakutan dan kehidupan di masyarakat bermasa depan suram adalah alasan terbaik.

Salma adalah seorang warga Suriah, menikah dengan pria Palestina yang memegang paspor Lebanon dan tinggal di Libya, negara yang tercabik-cabik oleh revolusi 2011 serta akibat dari revolusi itu.

Jika saja negara asalnya tidak jatuh ke dalam perang sipil, perempuan mungil 42 tahun yang memiliki enam anak ini akan mempertimbangkan untuk mengirim keluarganya ke Suriah.

Kenapa? Karena suaminya Salim sakit dan Salma menjadi tulang punggung keluarga.

Salma tidak sanggup menahan air matanya saat mengungkapkan kisahnya, sambil duduk di apartemen tiga kamar di Tripoli dengan hanya ditemani sebuah telepon seluler.

Ia datang ke Libya pada tahun 1990-an untuk mencari kerja.

Salma bertemu dan menikah dengan Salim, dan empat anak laki-laki serta dua anak perempuannya yang berumur antara tujuh hingga 20 tahun, semua lahir di sana.

Suaminya bekerja sebagai montir sukses di bengkelnya, sebelum ia menderita penyakit Parkinson. Ia kemudian juga terserang stroke.

“Saat itu tahun 2000 ketika saya menjadi kepala keluarga, tanpa ada pilihan lain,” katanya kepada kantor berita AFP. “Sakit suami saya semakin parah dan semuanya bergantung pada saya untuk menjaga keluarga ini.” “Itu artinya bekerja di lingkungan yang didominasi pria, bukanlah hal mudah bagi seorang perempuan di Libya, terutama seorang asing. Saya harus menjadi seorang ibu dan istri.” “Saat itu saya baru berumur 27 tahun,” katanya sambil memegang secangkir kopi beraroma kapulaga.

Anak perempuan jadi sasaran Anak laki-lakinya Ayman (17) dua kali diculik oleh geng kampung, dan ia memohon agar Salma mengirimnya ke Eropa.

“Saya dengan susah payah berhasil mengumpulkan 1.000 dolar AS dan memutuskan, membiarkan anak itu menggunakannya,” katanya. Itu terjadi pada September tahun lalu.

“Sekarang ia bersekolah dan ditampung oleh sebuah badan amal.” Dua bulan kemudian, Salma kembali menghabiskan 1.000 dolar AS agar anak lelaki tertuanya, Hadi (19), bisa bergabung dengan Ayman.

“Keduanya berangkat dari Zwara (sekitar 160 km) barat Tripoli dan diambil oleh angkatan laut Itali,” katanya.

Di Sisilia, pihak berwajib memberi mereka 75 euro (sekitar 80 dolar AS) untuk naik kereta api ke Milan, kemudian mereka melanjutkan ke Jerman.

Situasi di Libya yang memburuk membuat Salma mempertaruhkan segalanya.

“Suami, anak perempuan saya May (20) dan Mona (16), serta anak lelaki Omar (12) dan Manar (7) berangkat dari Zwara pada April tahun ini,” katanya.

“Anak-anak perempuan itu harus keluar dari Libya. Terlalu berisiko membiarkan mereka di sini, dimana mereka selalu dilecehkan, dan itu bukan hanya karena mereka cantik,” katanya.

“Karena mereka ‘orang asing’ dan ayah mereka sakit sehingga mereka menjadi rentan.” Mereka harus berpindah-pindah rumah lebih dari sekali setelah sekelompok pria bersenjata mencoba menculik anak-anak perempuan itu.

“Kami mundur untuk menyembunyikan mereka di dalam rumah daripada membahayakan masa depan mereka,” katanya.

Hati terkoyak Sebelum berangkat memulai perjalanan berbahaya mereka, anak-anak itu selalu berubah pikiran. Mereka tidak ingin meninggalkan ibu, teman-teman mereka, dan satu-satunya kehidupan yang mereka tahu.

Anak bungsu Salma, Manar seharusnya tinggal bersamanya, namun “melihat airmata anak itu yang berpikir akan terpisah dari ayahnya”, akhirnya Salma menyerah.

“Hati saya seperti terkoyak-koyak,” katanya.

Hingga kemudian tibalah saatnya menunggu, tanpa tahu bagaimana nasib mereka.

“Saya mau ikut pergi juga sebenarnya, tetapi saya harus tinggal untuk melunasi hutang-hutang yang mencapai 4.000 dolar untuk membayar perjalanan mereka.” Ia melakukan berbagai kerja kasar yang upahnya tidak mencukupi untuk membayar sewa rumah, belum lagi hutangnya kepada kelompok penyelundup manusia.

Di Jerman, Salim dan anak-anak belajar bahasa, dan ia sudah mendapatkan perawatan medis yang memadai. Mereka berharap bisa mendapatkan status pengungsi.

Meski demikian, keluarga itu masih tetap terpencar. Kedua anak lelakinya yang pergi lebih dulu, saat ini berada di Munich dan Dusseldorf, sementara anak-anak yang lain tinggal bersama ayah mereka di Frankfurt.

Salma masih bisa berkomunikasi dengan anggota keluarga berkat teknologi Skype dan Viber.

“Mona dan May menelpon saya ketika Omar tidak mau bangun untuk berangkat sekolah,” katanya sambil tersenyum. “Ribuan kilometer jauhnya, dan masih saja saya yang harus membangunkannya dari tempat tidur.” “Jika bukan karena perang di Suriah, saya pasti sudah kesana bersama keluarga.

“Hidup di sini tidak ada artinya tanpa mereka, tapi apa yang membuat saya terus bertahan adalah mengetahui bahwa mereka semua baik-baik saja dan punya masa depan.

“Itu yang membuat semuanya sepadan.” Salma juga ingin pergi melintasi samudra, namun anak-anak memintanya untuk menunggu sampai mereka bisa betul-betul menetap dengan nyaman sebelum keluarga itu berkumpul.

“Itu adalah pengalaman terburuk sepanjang hidup kami,” kata May dan Mona kepada ibunya saat bercerita soal perjalanan mereka ke utara.


Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About kicknews. today

Dalam Kategori Ini

Obama Kunjungi Pengungsi Ditengah Perdebatan Terkait Eksodus Suriah Di AS

  kicknews.today Kuala Lumpur – Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan dunia harus memberikan tempat ...