BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Prancis Tak Akan Hidup Damai Selama Ikut Menyerang IS

Polisi khusus Perancis saat tiba di teater Bataclan, di mana militan bersenjata membunuh puluhan orang yang semula dijadikan sandera (net)
Polisi khusus Perancis saat tiba di teater Bataclan, di mana militan bersenjata membunuh puluhan orang yang semula dijadikan sandera (net)

kicknews.today Paris – Islamic State (IS) pada Sabtu (14/11) mengaku bertanggungjawab atas serangan terencana sekelompok bersenjata dan pengebom, yang menewaskan 127 orang, di beberapa tempat di Paris, yang disebut Presiden Francois Hollande sebagai perang melawan Prancis.

Dalam pernyataan tanggung jawabnya, IS mengatakan serangan tersebut sebagai jawaban atas gerakan Prancis melawan pejuangnya.

IS juga menyiarkan video tidak bertanggal, yang menunjukkan seorang pejuang mengatakan bahwa Prancis tidak akan hidup damai selama masih ikut dalam serangan bom melawan mereka.

“Selama masih mengebom, Anda tidak akan hidup damai. Bahkan untuk sekadar berjalan ke pasar, Anda akan merasa takut,” kata pejuang berjanggut dan berbahasa Arab dalam video tersebut.

Seorang pegawai balai kota Paris mengatakan para pria bersenjata itu secara sistematis membantai sedikit-dikitnya 87 orang muda dalam sebuah konser musik rock di gedung konser Bataclan sebelum prajurit anti-teroris melancarkan serangan ke gedung tersebut.

Puluhan korban selamat segera dievakuasi dan mayat-mayat masih diurus pada Sabtu pagi.

Sekitar 40 orang lainnya tewas dalam serangan di beberapa lokasi lain termasuk dua bom bunuh diri di luar stadion nasional Stade de France, dimana Presiden Hollande dan Menteri Luar Negeri Jerman menonton pertandingan sepak bola persahabatan.

Serangan tersebut terjadi ketika Prancis, salah satu anggota koalisi pimpinan Amerika Serikat yang melancarkan serangan udara terhadap IS di Suriah dan Irak, berada dalam status siaga terhadap serangan teroris.

Itu adalah serangan terburuk di Eropa setelah pengeboman kereta Madrid pada 2004, yang menewaskan 191 orang.

Hollande mengatakan serangan tersebut diatur di luar negeri oleh kalangan barbar IS dengan bantuan dari dalam negeri. Beberapa sumber yang dekat dengan penyelidikan mengatakan paspor warga Suriah ditemukan di dekat mayat salah satu pengebom bunuh diri.

“Dalam berhadapan dengan perang, negara ini harus mengambil tindakan tepat,” kata Hollande setelah rapat darurat dengan kepala keamanan. Ia juga mengumumkan tiga hari berkabung nasional.

Mantan presiden Nicolas Sarkozy menambahkan bahwa Prancis harus berperang dengan total.

Selama kunjungannya ke Wina, Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan bahwa saat ini warga dunia menyaksikan fasisme abad pertengahan dan modern pada saat bersamaan.

Sumber pemerintah Prancis mengatakan kepada Reuters bahwa 127 orang dinyatakan tewas, 67 orang dalam kondisi kritis, dan 116 orang terluka. Enam penyerang meledakkan diri sendiri dan satu penyerang lain ditembak oleh polisi.

Disebut-sebut ada delapan penyerang, namun hal tersebut belum bisa dipastikan.

Serangan dengan menggunakan senjata otomatis dan sabuk peledak itu terjadi selama 40 menit.

“Para teroris dan pembunuh itu menyapu bersih beberapa teras kafe dengan tembakan dari senapan mesin sebelum masuk ke gedung konser. Ada banyak korban dengan kondisi mengerikan di beberapa tempat,” kata pejabat polisi Michel Cadot kepada wartawan.

Keadaan Darurat Setelah dievakuasi dari stadion dekat ledakan terjadi, Hollande mendeklarasikan keadaan darurat negara yang pertama kalinya sejak Perang Dunia II. Kendali perbatasan untuk sementara diberlakukan kembali untuk mencegah para pelaku kabur.

Acara olahraga ditunda, pusat-pusat perbelanjaan tutup, band rock U2 membatalkan konser, dan sekolah, universitas, serta gedung-gedung di Paris diperintahkan tutup pada hari Sabtu. Beberapa layanan kereta api dan pesawat diharapkan tetap berjalan.

Sylvestre, seorang pemuda yang berada di Stade de France saat bom meledak di dekat lokasi tersebut, mengatakan ia terselamatkan berkat ponselnya yang dipakainya untuk melindungi telinga saat ia terkena serpihan.

“Ponsel itu yang menahan benturan, jika tidak kepala saya sudah hancur,” ujarnya sambil menunjukkan ponsel yang layarnya pecah.

Koran Prancis melaporkan tentang pembantaian dan horor, seperti yang tertulis sebagai judul muka koran “Figaro”, “Perang di Jantung Kota Paris”, dengan latar belakang para korban yang diangkut dengan tandu.

Layanan darurat dikerahkan, masa cuti polisi dibatalkan, sebanyak 1.500 tentara tambahan dikerahkan ke Paris, dan rumah-rumah sakit memanggil para staf untuk mengurus para korban.

Stasiun radio memperingatkan warga Prancis tetap tinggal di rumah dan mendesak para penduduk menampung mereka yang berada di jalanan.

Serangan paling mematikan terjadi di Bataclan, gedung konser terkenal dimana grup “rock” asal California, Eagles of Death Metal sedang tampil. Beberapa saksi di gedung tersebut mengaku mendengar para penembak meneriakkan pujian Islam dan slogan mengutuk tindakan Prancis di Suriah.

Gedung tersebut terletak di dekat bekas kantor majalah satir Charlie Hebdo. Prancis berada dalam status siaga satu sejak penembak Islam menyerang kantor majalah tersebut dan sebuah pusat perbelanjaan yang menewaskan 18 orang, Januari lalu.

Serangan tersebut memicu persatuan warga Prancis untuk membela kebebasan berpendapat, dengan massa yang berunjuk rasa lebih dari satu juta orang. Namun kesatuan tersebut terpecah saat tokoh populis sayap kanan Marine Le Pen mendapatkan perhatian kedua partai utama dengan menyalahkan krisis imigrasi dan Islam atas masalah keamanan Prancis.

Belum jelas dampak politik apa yang diakibatkan serangan terbaru yang terjadi kurang dari satu bulan sebelum pemilu daerah dimana partai Front Nasional milik Le Pen akan membuat kemajuan.

Partai Sosialis yang saat ini berkuasa dan Front Nasional sepakat menangguhkan kampanye pemilu mereka.

Presiden AS Barack Obama dan Kanselir Jerman Angela Merkel memimpin solidaritas global dengan Prancis. Sekjen PBB Ban Ki-moon mengutuk serangan keji itu dan Paus Fransiskus menyebut pembunuhan massal itu tidak manusiawi.

Prancis memerintahkan peningkatan keamanan melalui lamannya di luar negeri. Italia, Rusia, Belgia, Hongaria, dan Belanda juga memperketat langkah pengamanan masing-masing.

Sementara itu, Polandia mengatakan bahwa serangan itu menandakan mereka tidak bisa menerima tambahan pendatang seperti yang direncanakan Uni Eropa. Banyak pendatang yang saat ini membanjiri Eropa merupakan pengungsi dari Suriah.

Jarak Dekat Para pria bersenjata itu menembak korbannya di bagian punggung dan menghabisi mereka dengan tembakan jarak dekat sebelum mengisi kembali peluru dan kembali melepaskan tembakan, kata wartawan Radio 1 Eropa, Julien Pearce, yang berada di dalam gedung konser sebelum melarikan diri ke jalan dengan membawa seorang gadis yang terluka.

Toon (22), kurir tinggal di dekat Bataclan, pergi ke gedung konser tersebut dengan dua temannya sekitar pukul 10.30 malam (06.30 WIB Sabtu) ketika ia melihat tiga pria berpakaian hitam dan bersenjata mesin. Ia kemudian memutuskan tetap berada di luar gedung.

Salah satu pria mulai menembaki kerumunan orang.

“Orang-orang berjatuhan seperti domino,” kata Toon kepada Reuters.

Ia melihat orang-orang tertembak di kaki, pundak dan punggung, dan beberapa diantara mereka terbaring di lantai, sepertinya tewas.

Dua ledakan terdengar di dekat Stade de France dimana pertandingan sepak bola persahabatan Prancis-Jerman sedang berlangsung. Seorang saksi mengatakan salah satu ledakan mengakibatkan orang-orang terpental di luar restoran siap saji yang berseberangan dengan stadion itu.

Di pusat kota Paris, tembakan meletus pada tengah malam di luar restoran Kamboja di distrik 10.

Sebanyak 18 orang tewas saat seorang pria menembaki para warga yang sedang menikmati makan malam di teras-teras area terkenal Charonne di dekat distrik 11.

Pihak berwajib menyebutkan lima lokasi yang berdekatan dimana tembakan-tembakan terjadi pada saat bersamaan. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Berangkat Jadi Petempur ISIS, Bocah Indonesia Ini Tewas di Suriah

  Mataram – Seorang bocah berusia 11 tahun asal Indonesia bernama Hatf Saiful Rasul dilaporkan ...