BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Yuk Intip Sekolah di Amrik, Disana 1 Laptop 1 Murid

147A2C6F-77FE-43EB-AD0D-92D6C7D9C913_mw1024_s_n

kicknews.today – Seorang guru perempuan berambut pirang terlihat serius mendampingi tiga murid lelaki yang sedang serius menatap layar laptop di depannya.

Mereka duduk berkelompok dan membentuk lingkaran. Saat, sang guru berdiskusi dengan salah satu murid.

Dua murid lainnya sibuk mengerjakan soal matematika dari layar laptop mereka. Di sisi kanan mereka terdapat kertas yang digunakan untuk coretan mencari jawaban.

Pemandangan serupa tak hanya terjadi di satu ruang kelas tersebut, tetapi hampir di setiap ruang kelas di Thomas Russell Middle School, Milpitas, California, Amerika Serikat.

Wakil Presiden Majelis Pendidikan Milpitas, Gunawan Alisantosa menjelaskan hal serupa tidak hanya ada di sekolah menengah tetapi mulai dari jenjang sekolah dasar.

Perubahan itu bermula dari empat tahun yang lalu, mereka melakukan perubahan drastis dalam metode belajar dari yang sebelumnya konvensional menjadi pembelajaran campuran (blended learning).

“Zaman telah berubah, maka kita pun harus mengikuti perkembangan zaman. Kalau dulu kita diajarkan duduk di bangku sekolah berjejer dan hanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru, namun dengan “blended learning” setiap murid bebas bergerak serta berinteraksi dengan guru,” ujar Gunawan yang sudah menetap selama 38 tahun di Amerika Serikat itu.

Metode “blended learning” menggabungkan antara instruksi ruang kelas tradisional dengan pembelajaran digital. Pembelajaran yang menggabungkan penggunaan buku dan perangkat lunak.

Dengan metode itu, sistem pendidikan lebih berorientasi pada murid, mendorong murid untuk belajar sepanjang hayat.

Melalui metode tersebut, maka guru dan murid akan memiliki akses ke data yang lebih baik yang meningkatkan belajar dan mengajar.

Guru juga dengan mudah bisa memantau perkembangan murid.

Di Milpitas, setiap murid di sekolah itu juga mendapatkan satu laptop atau lebih tepatnya dipinjamkan.

Tiap laptop ditempeli stiker nama-nama murid. Akan tetapi, perangkat teknologi tersebut tidak dibawa pulang, setelah belajar mereka kemudian harus mengumpulkan dan menyimpannya di loker.

Mereka menggunakan laptop untuk melakukan latihan di kelas atau melakukan penelitian.

Di beberapa sekolah juga memiliki laboratorium belajar dimana murid dari beberapa kelas dapat bekerja pada proyek-proyek berbasis komputer secara individu maupun kelompok.

Penggunaan kertas di kelas pun jauh berkurang. Misalnya untuk mengerjakan latihan, mereka tidak lagi harus menulis pada tulis namun cukup mengetik pada laptop mereka yang kemudian diunggah dan dinilai oleh guru mereka.

Kursi-kursi di kelas bukan kursi statis, namun kursi yang dilengkapi roda. Sehingga murid lebih fleksibel bergerak dan berinteraksi dengan guru.

“Guru pun mengajar berdasarkan kemampuan belajar sang murid. Setiap murid mempunyai kecepatan yang berbeda, sehingga pendekatan yang dilakukan pula harus berbeda.” Di Milpitas, murid yang memiliki kemampuan menangkap pelajaran agak lamban diberikan bimbingan tambahan.

“Pada tingkat sekolah menengah ada juga sekolah untuk anak yang membutuhkan perhatian khusus atau nakal. Jumlahnya tidak banyak, sekitar 174. Mereka diberi bimbingan tambahan dan banyak yang berhasil masuk ke situ,” cetus Gunawan yang saat ini bekerja di perusahaan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) tersebut.

Berbeda dengan yang umumnya terjadi di Tanah Air, di Amerika Serikat tidak ada yang namanya juara kelas.

Kepsek SD Joseph Weller, Raquel Kusunoki, mengatakan setiap murid mempunyai kemampuan yang berbeda untuk setiap bidang. Murid memiliki keunggulannya masing-masing, entah itu matematika, bahasa ataupun olahraga.

Ada ujian yang dilakukan baik ujian perbandingan maupun kompetensi, tapi tidak digunakan untuk menentukan kenaikan kelas ataupun lulus atau tidak.

Dana Besar Untuk menerapkan metode pembelajaran campuran atau “blended learning”, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit.

Pengawas sekolah terpadu Milpitas, Cary Matsuoka, mengakui mereka menggelontorkan dana sebesar setengah juta dolar untuk pembangunan infrastruktur jaringan internet.

“Kemudian untuk laptop, kami mengeluarkan dana sebesar 300 dolar untuk setiap anak,” kata Matsuoka.

Matsuoka menjelaskan mereka memilih menggunakan Chromebook, produk besutan Google untuk proses belajar-mengajar di sekolah itu.

“Tentu ada perbedaan yang mendasar antara Chromebook dan laptop. Dengan Chromebook, kami bisa mengontrol apa yang bisa dibuka dan yang tidak bisa dibuka anak. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan jika menggunakan laptop biasa,” terang Matsuoka.

Dengan Chromebook, mereka tidak perlu mengeluarkan uang lebih untuk membeli lisensi perangkat lunak lainnya contohnya kalau menggunakan sistem operasi berbayar pada laptop, maka kita harus mengeluarkan uang untuk perangkat lunak lainnya.

Akan tetapi mereka tetap harus mengeluarkan untuk sistem tes berlisensi. Meski tak menyebutkan berapa angka pastinya, Cary mengakui biaya yang dikeluarkan cukup besar.

“Metode “blended learning” memutus kesenjangan antara siswa yang berasal dari keluarga mampu dan tidak.” Lalu dari mana semua biaya tersebut? Milpitas merupakan kota kecil yang termasuk dalam wilayah Santa Clara, California, Amerika Serikat.

Gunawan yang berasal dari Indonesia tersebut mengatakan sekolah tersebut merupakan sekolah negeri dan masyarakat yang memasukkan muridnya ke sekolah tersebut tidak perlu membayar.

Jumlah mereka mencapai 10.000 murid yang terdiri dari SD, SMP dan SMA.

“Tiap tahun jumlahnya terus naik, karena kota ini sedang dalam pembangunan besar-besaran. Penduduknya bertambah banyak dan kami sedang memperjuangkan membuat sekolah baru,” terang Gunawan.

Semua dana tersebut berasal dari pajak masyarakat yang dipungut berdasarkan hasil kesepakatan bersama. Gunawan menyebut kalau hal itu dinamakan “bond measure”, tiap penduduk ditanyakan apakah mau membayar pajak lebih untuk pembangunan infrastruktur jaringan TIK dan pengadaan laptop di sekolah.

Untuk berhasil mendapatkan dana dari pajak masyarakat tersebut, harus mengumpulkan setidaknya 55 persen suara.

Jadi harus cerdas dalam melakukan kampanye, agar masyarakat mau membayar pajak lebih.

“Empat tahun lalu, kami berhasil mengumpulkan 95 juta dolar dari “bond measure” tersebut,” kata Gunawan.

Atase pendidikan KBRI Washington DC, Prof Ismunandar, mengatakan penerapan metode pembelajaran “blended learning” harus dimulai secepatnya.

“Bukan soal bisa atau tidaknya, tapi harus dimulai karena teknlogi dapat disesuaikan dengan keunikan dan kemampuan belajar murid,” kata Ismu.

Dengan teknologi, siswa bisa belajar sesuai dengan kecepatannya, dipantau dan kemudian diberikan umpan balik.

“Juga memungkinkan adanya kolaborasi. Secara jangka panjang juga akan lebih murah,” tukas Ismu.

Dalam penerapan metode tersebut, juga tak bisa lepas dari peran serta masyarakat dalam meningkatkan pendidikan.

Masyarakat tidak bisa lepas dan menyerahkan masalah pendidikan pada pemerintah saja, tetapi ikut serta dalam memajukan pendidikan itu sendiri. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today