BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Saksi : Selain Dana Operasional Menteri Rp 3,3 M Untuk Jero

kicknews.today Jakarta – Mantan Kepala Biro Umum Kementerian ESDM Arief Indarto mengakui ada pagu hingga Rp3,368 miliar untuk keperluan mantan Menteri ESDM Jero Wacik di luar Dana Operasional Menteri (DOM) sebesar Rp120 juta per bulan.

“Dana DOM sesuai Peraturan Menteri Keuangan Rp120 juta per bulan, tapi ada dana operasional menteri yang lain di luar dana DOM yang juga diambil dari APBN, pagunya Rp3,3 miliar karena ada tambahan untuk operasional menteri,” kata Arief Indarto dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Dalam dakwaan Jero Wacik, disebutkan Arief Indarto memilih mata anggaran Biaya Rapat-rapat Pendukung Operasional Pimpinan pada Biro Umum Tahun Anggaran 2012 dengan pagu anggaran sebesar Rp3,368 miliar. Namun karena anggaran tersebut tidak dapat dicairkan sekaligus dan mendadak, maka untuk dapat memenuhi setiap permintaan uang dari Jero, Arief meminjam uang kepada Kabiro Keuangan Kementerian ESDM Didi Dwi Sutrisnohadi maupun pihak calon rekanan pengadaan barang/jasa di Biro Umum. Sebagai imbalan rekanan akan mendapat imbalan 10 persen dari nilai anggaran.

Permintaan uang diperintahkan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM saat itu Waryono Karno kepada Arief Indarto sejak 3 Mei 2012 – 22 Februari 2013 dengan permintaan sebesar Rp100-200 juta dan diserahkan melalui Jero melalui ajudan Jero bernama Jemmy Alexander maupun staf khusus yaitu I Ketut Wiryadinata sehingga uang yang Jero melalui I Ketut Wiryadinata untuk keperluan pribadi seluruhnya Rp2,6 miliar.

“Ketika kami tidak mampu menambah atau sesuai permintaan Pak WK (Waryono Karno) terkait dana operasional menteri, kami pinjam dulu ke biro keuangan, ke Pak Didi. Sumber dananya dari operasional rapat-rapat tadi,” ungkap Arief.

“Jadi Rp3,368 miliar itu fiktif?” tanya jaksa KPK.

“Iya rapat fiktif, rapat itu tidak ada yang diadakan. Saat rapat dengan eselon 2, Pak Waryono mengatakan ini atas arahan menteri. Beliau menyampaikan dana Rp120 juta terlalu minim ssehingga disamakan dengan kemenbudpar itu,” jawab Arief.

“Apakah dana itu selalu habis untuk operasioanl menteri?” tanya jaksa.

“Selalu habis,” jawab Arief.

“Bagaimana bisa tahu?” tanya jaksa.

“Dari laporan kepala Sub rumah tangga. Jadi Pak Waryono SMS minta disediakan uang Rp100-200 juta atau kalau rapat inti beliau mengatakan meminta uang,” jawab Arief.

“Ada berapa kali permintaan uang?” tanya jaksa.

“Ada 15-16 kali kalau gak salah,” jawab Arief.

“Apakah terdakwa tahu dana operasional berasal dari dana fiktif?” tanya jaksa.

“Beliau membaca laporan,” jawab Arief.

“Laporan aslinya diperlihatkan ke terdakwa?” tanya jaksa.

“Iya, menjadi satu dengan satuan dari nota dinas, tapi Pak Menteri minta dirobek supaya tidak ke mana-mana, jadi laporan disobek saja, ya sudah saya laksanakan,” jawab Arief.

Namun meski Arief merobek laporan dan kuitansi asli, namun ia tetap menyimpan salinannya yang disampaikan ke penyidik KPK.

Dalam dakwaan disebutkan Jero Wacik menggunakan Dana Operasional Menteri (DOM) untuk keperluan pribadi seluruhnya berjumlah Rp1.911.943.075.

Contoh-contoh penggunaan uang itu selain ulang tahun Triesna ada juga perayaan ulang tahun Jero pada 24 April 2012 di Hotel Dharmawangsa senilai Rp379 juta.

Jero juga mengadakan acara-acara lain yang pembayaran biayanya ditanggungkan kepada Agung Pribadi yaitu (1) Makan malam di Hotel Dharmawangsa pada 12 Oktober 2012 dengan biaya Rp174.306.550, (2) Pesta ulang tahun Triesna Wacik di Hotel Dharmawangsa pada 10 April 2013 yang dibayarkan pada 28 Mei 2013 sejumlah Rp186.491.250.

Ketiga, Pesta ulang tahun terdakwa di Hotel Dharmawangsa pada 24 April 2013 sejumlah Rp337.765.450 dan keempat, acara peluncuran buku yang berjudul “Jero Wacik di Mata 100 Tokoh” di Hotel Dharmawangsa pada 7 Juli 2013 yang dibayarkan pada 2 Agustus 2013 sejumlah Rp564.353.242. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About kicknews. today