BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

La Hila Band, Dari Bima Untuk Indonesia

Ungkap Sejarah dengan Nada-Nada Perdamaian

La Hila, perempuan yang lahir dengan pengorban dan pergi dengan pengorbanan. Cerita inilah yang menjadi pijakan lima anak muda membuat band dengan nama La Hila. Mereka ingin mengingatkan kembali kisah perempuan yang terlupakan di dana mbari (mbojo).

La Hila Band
La Hila Band

Malam itu, nada pesan blackberry messenger (BBM) berbunyi. Setelah dibuka ada ternyata kiriman file musik. Judul sapa moti maling (menyeberengi lautan sepi, Red).

Pesan itu kiriman dari Nico Manggila La Hila. Pengirim ini belum pernah dilihat. Baru kenal malam itu. Itupun dari kawan Apen Makese.

Setelah dibuka, ternyata lagu pop berbahasa Bima. Lagu dengan durasi waktu 4 menit 35 detik itu meceritakan sepasang kekasih. Cukup merinding dengar lagu tersebut.

”Sudah saya kirim lagunya Bang,” kata Nico dalam pesan singkat.

Nico yang juga salah satu personel La Hila Band menceritakan awal mulanya mereka berkarya lewat nada-nada. Ia lantas mengupas semua kisah mereka hingga lahirnya nama La Hila ini.

La Hila Band ini awalnya lahir dari diskusi dua orang sahabat Apen Makese (Afrin) dan Nico Manggila di Jakarta. Kala itu, tepat tanggal 1 Januari 2010.

Ditengah diskusi itu, tiba-tiba diotak dua sahabat tercetus kata La Hila. Nama itu diambil dari nama seorang putri di tanah Donggo, Bima, NTB.

Sejarah band ini berdiri atas gagasan Apen dan Nico. LaHila menjadi inspirasi karena pengorbanan, kelembutan, pesan, dan niat untuk mengangkat sejarah La Hila. Yang faktanya, menurut mereka, orang Bima pun banyak yang belum mengetahui sejarah La Hila.

La Hila band sendiri didedikasikan untuk rakyat Bima khususnya NTB umumnya nusantara secara nasional. Berdirinya band ini diharapkan mampu menuangkan pesan-pesan La Hila dalam bentuk syair, lagu, dan nada yang bisa dimaknai generasi-generasi muda yang akan datang.

”La hila lahir karena pengorbanan yang tulus, dan pergi karena pengorbanan yang tulus. Itulah yang membuat kami menamai band dengan nama La Hila,” kata bassist La Hila band Nico.

La Hila Band ini awalnya beranggotakan, Nico (Bassist), Jovan (Vocalist), Dika (Guitarist), Damanhuri (Keyboardist), dan Heri (Drummer). Seiring berjalannya waktu, terbentuklah formasi metamorfosa La Hila Band yang beranggotakan Ame (Vocalist), Ajie (Guitarist), Ilham (Keyboardist), Nico (Bassist), dan Imam (Drummer).

”Semoga nada-nada yang akan mengalir saat ini, nanti, dan seterusnya akan terus bernyawa dan dapat bermakna serta menginspirasi bagi semua kawan-kawan La Hila,” harap dia.

Dalam bermusik, kata dia, La Hila mengalami evolusi. Dahulu band ini bergenre pop melayu. Namun seiring pendewasaan para personil saat ini di dalam bermusik La Hila band menjelmas menjadi band yang bergenre pop alternative.

”La Hila band ingin membuat suatu karya yang tidak hanya bisa didengar namun bisa dirasakan dan dinikmati oleh kawan-kawan la hila,” ujarnya.

Dalam album perdana mereka ini terdapat sepuluh lagu andalan. Pada di album perdana ini banyak bercerita tentang cinta (true story) yang diangkat dari kisah dan perjalanan pribadi hidup kami. Diantaranya, lagu berjudul Cerita Cinta, Cintai dengan Abadi, Tinggalah Kenangan, Nurani, Tersakiti Lagi, 1000 Tahun, Mungkin yang Terbaik, Walau dalam Mimpi, Putri yang Hilang (La Hila), dan Untukmu Ayahanda.

Sementara, single lagu SAPA MOTI MALINGI ini dikemas dengan bahasa Bima. Dalam waktu dekat ini, kata Nico, La Hila band akan mempersiapkan album Tribute To Dana Mbojo, yang didalam nya berisikan lima lagu berbahasa Bima. Yakni, Lemboade, Cengga Ade, Sinci Ma  Ncewi, Tana’o Mori, dan Sapa Moti Malingi.

”Jika tidak ada kendala, di bulan Desember nanti kami (La Hila Band) juga dipercaya mewakili NTB di festival music nusantara, antar 34 provinsi di Indonesia. Nantinya, akan berkolaborasi dengan musisi tradisional yang akan di kombinasikan dengan music kontemporer di TMII Jakarta.

Band ini tidak sekedar band. Mereka memiliki visi untuk membumikan cerita dan kisah seorang wanita yang bernama La Hila kepada masyarakat (Donggo) Bima, Dompu, Sumbawa, Lombok (NTB) khususnya dan Indonesia pada umumnya. Sementara, misinya ingin menjaga dan memupuk makna atau pesan (agama) dari sikap (adat dan budaya).

Ape Makese selaku pencetus nama band La Hila mengulas, La Hila ini mengajarkan bahwa keinginan diri tak akan memiliki arti apa-apa jika hanya ingin puaskan ambisi dan nafsu diri. Mengangkat nama La Hila, sambung dia, menjadi simbol perdamaian bagi daerah ke permukaan nasional (Indonesia).

”Mengembalikan kesadaran sejarah dan budaya bagi generasi yang telah berdiaspora dari identitas daerah. La Hila band ingin mewujudkan kembali identitas yang terlupa tersebut melalui musik yang menghentakan kerinduan pada rahim sejarahnya,” ceritanya bersemangat ketika bertandang ke Mataram, belum lama ini.

 

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Hina Etnis Donggo, Akun Facebook Mahasiswa Bima Dilaporkan ke Polda NTB

  kicknews.today – Akun facebook “Lafi Firman” dilaporkan ke Polda NTB, Jumat (20/10) tadi, terkait ...