Jadilah yang Pertama Tau

Have You Ever Seen The Rain?

ilustrasi - dampak asap kebakaran hutan mulai mengganggu aktivitas warga (net)
ilustrasi – dampak asap kebakaran hutan mulai mengganggu aktivitas warga (net)

Someone told me long ago
There’s a calm before the storm,
I know
It’s been comin for some time.

When it’s over, so they say,
It’ll rain a sunny day,
I know
Shinin down like water.

[Chorus]
I want to know, have you ever seen the rain
I want to know, have you ever seen the rain
Comin down on a sunny day

ceritakita.kicknews.today – Petikan lagu lawas milik group Band legendaris Creedence Clearwater Revival (CCR) yang berjudul Have You Ever Seen The Rain diatas seakan menggoda kerinduan negeri ini akan hujan yang lama tak terdengar kabarnya. Have you ever seen the rain Apakah kau pernah melihat hujan? Membuat dahaga semakin menjadi.
Sudah tak terhitung hari bahkan melewati bulan asap terus menyelimuti langit Negeri, di atas hijau Kalimantan Tengah, diatap Sumatera menjadi oksigen pekat yang terpaksa harus dihirup tanpa ada pilihan.

Belum lagi kaki kita menginjak tanah Borneo, bau samar asap tercium dalam kabin pesawat, sementara di luar kabut putih menutupi pemandangan.

Karena kabut asap, pesawat tidak bisa mendarat di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, asap juga memenuhi udara meski tidak setebal di Kalteng, tapi cukup mengganggu cuping hidung yang belum terbiasa menghirup asap.

Dari Banjarmasin ke Palangka Raya melewati jalur darat sekitar empat jam, semakin lama kabut asap semakin tebal dan jarak pandang semakin rendah.

Di perbatasan Kalteng dan Kalsel mulai melewati wilayah Anjir Pasar, kendaraan yang melintas harus menghidupkan lampu utama karena jarak pandang yang terganggu kabut asap.

Pemandangan di sepanjang perjalanan hanya berupa gambaran samar-samar pohon dan kayu serta semak-semak yang menghitam sisa-sisa kebakaran.

Memasuki wilayah Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, asap tebal semakin bergelayut di udara menyesakkan paru-paru dan membuat mata perih.

Baru beberapa jam saja berada di Kalimantan, rasanya sudah sangat menderita karena tidak ada udara segar yang bisa dihirup. Tidak terbayangkan penderitaan warga setempat yang sehari-hari harus menghadapinya.

Mungkin karena sudah terbiasa, sebagian besar warga tidak menggunakan masker meski asap memenuhi udara.

“Hari ini masih kurang, kemarin-kemarin lebih pekat lagi. Saya tidak betah pakai masker, rasanya pengap,” kata salah seorang warga, Mariati.

Kabupaten Pulang Pisau adalah salah satu wilayah yang terparah mengalami dampak kabut asap dengan Indeks Standar Pencemeran Udara (ISPU) yang membahayakan kesehatan.

Beberapa hari lalu bahkan kabut asap di sana dan Palangka Raya sempat berwarna kuning dan tercatat ISPU mencapai lebih dari 3.000 sementara di atas 300 saja sudah berbahaya untuk kesehatan.

Shalat Istisqa Minggu (25/10) pagi Siti Nasirah (65) selesai berwudhu dan bersiap hendak shalat bersama seratusan warga Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah di lapangan Polres setempat.

Warga berbondong untuk melaksanakan shalat memohon hujan (istisqa) agar hujan turun memadamkan kebakaran hutan dan lahan serta membersihkan udara dari kabut asap.

“Sebelumnya sudah pernah shalat istisqa, ini yang kedua kali kami shalat istisqa,” kata Siti yang sejak pagi sudah hadir di lapangan Polres Katingan.

Semalam, hujan sempat turun membasahi bumi hingga asap tidak begitu tebal meski langit juga masih putih tertutup kabut.

“Kami berharap asap bisa segera reda. Tahun ini yang terparah, kasihan anak-anak,” tambah dia.

Shalat istisqa yang dipimpin ulama setempat juga diikuti oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Mensos mengajak seluruh masyarakat di daerah yang terdampak kabut asap untuk berdoa bersama-sama memohon hujan sehingga kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap dapat segera teratasi.

“Kepada para imam juga pendeta di gereja, ajak semua sama-sama berdoa supaya turun hujan,” kata Mensos.

Menurut Khofifah, dari berbagai laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta lembaga penelitian internasional lainnya, upaya pemadaman lewat bom air sulit untuk mengatasi kebakaran yang terjadi.

Karena yang terbakar merupakan lahan gambut pada kedalaman tertentu sehingga pemadaman dari atas saja tidak mungkin berhasil.

“Yang bisa memadamkan hanya hujan saja. Karena itu, mari kita berdoa memohon hujan agar (api) segera padam,” katanya.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini semakin parah akibat musim kemarau dan dipengaruhi oleh El Nino.

Sebagai Ketua Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah juga mengajak para Muslimat di semua daerah untuk bergerak melakukan shalat istisqa.

“Shalat Istisqa ini merupakan salah satu upaya kita dengan memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan,” katanya.

Seruan MUI Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan kepada umat Islam di Indonesia untuk melaksanakan shalat istisqa untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan kabut asap.

“Mengingat kondisi beberapa wilayah di Indonesia saat ini, MUI menyerukan agar umat Islam melaksanakan shalat istisqa,” kata Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin di Jakarta.

Pelaksanaan shalat istisqa tersebut hendaknya didahului puasa selama tiga hari, memperbanyak istighfar, berperilaku sopan santun dan berkehidupan sederhana serta memohon doa.

MUI juga menyerukan agar umat Islam di Indonesia bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT dari segala macam maksiat, meninggalkan perilaku zalim, memperbanyak sedekah, dan meninggalkan permusuhan.

“Karena kekeringan berkepanjangan yang melanda negeri ini bisa jadi merupakan peringatan dari Allah SWT,” katanya.

Selain itu, MUI juga menyerukan kepada pemerintah untuk mengambil kebijakan tegas dan strategis yang berimplikasi pada upaya penghentian atau pengurangan dari berbagai dampak buruk kemarau panjang.

Tindakan tegas bisa berupa penegakan hukum yang menjerakan kepada setiap pelaku pembakaran hutan dan lahan yang menyebabkan bencana asap, melancarkan ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil yang paling merasakan dampak kemarau panjang.

Kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan kabut asap telah berlangsung sekitar dua bulan di beberapa daerah seperti Sumatera Selatan, Provinsi Riau, Kalimantan Barat dan Jambi. Kualitas udara di beberapa daerah tersebut berada pada level sangat berbahaya bagi kesehatan.

Berbagai upaya yang dilakukan seperti bom air dengan menurunkan berbagai sumber daya dan peralatan yang ada bahkan hingga bantuan dari negara tetangga, juga belum membuahkan hasil yang nyata.

Malah asap semakin tebal hingga korban jiwa mulai berjatuhan. Tercatat sudah 19 orang meninggal diduga akibat terpapar kabut asap.

Hanya doa yang mungkin menjadi upaya terakhir, berharap kekuatan dari Sang Maha Pencipta turun tangan lewat hujan lebat yang akan menyelesaikan drama asap yang berkepanjangan.

Seseorang berkata padaku
Masih tenang sebelum badai,
Aku tahu
Akan datang kapan saja.

Ketika berakhir, mereka bilang,
Akan hujan di hari yang cerah,
Aku tahu
Bersinar seperti air.

[Reff]
Aku ingin tahu, apa kau pernah melihat hujan?
Aku ingin tahu, apa kau pernah melihat hujan?
Turun pada hari yang cerah

Kemarin, dan hari sebelumnya,
Matahari dingin dan hujan keras,
Aku tahu
Memang sudah seperti itu.

Selamanya, akan terus begitu
Melingkar, cepat dan lambat,
Aku tahu
Tidak akan berhenti, aku membayangkan.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat