BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Kidung Harmoni Alam Dalam Ritual Mulang Pekelem

ritual 'Mulang Pekelem' di Danau Segara Anak Gunung Rinjani (net)
ritual ‘Mulang Pekelem’ di Danau Segara Anak Gunung Rinjani (net)

wisata.kicknews.today Mataram – Matahari hendak beranjak, mendaki puncak Gunung Rinjani ketika suasana hening mulai menyelimuti dataran didekat telaga Danau Segara Anak.  Tiupan angin gunung berbisik dengan bahasanya didaun-daun cemara, pinus yang tumbuh subur ditepian telaga.

 
Hari itu, Umat Hindu berkumpul di Pura Jagadnata, dengan khidmat mendendangkan kidung Pangruwat Bumi, melantunkan doa-doa, dan mempersembahkan tarian suci kepada Jagad Dewanata. Ritual ini adalah awal dari Yadnya Mulang Pekelem dan Bumi Sudha, prosesi sembahyang umat Hindu di Pulau Lombok.

 
Upacara itu sendiri akan digelar pada purnama bulan kelima di Danau Segara Anak dekat puncak Gunung Rinjani. Upacara Mulang Pekelem dan Bumi Sudha dilakukan setiap lima tahun sekali dan tergolong upacara besar bagi umat Hindu di Pulau Lombok. Peserta yang hadir bukan hanya umat Hindu dari Pulau Lombok, tapi juga dari Bali, Jawa, dan Kalimantan.

 
Upacara ini adalah refleksi dari konsep Tri Hita Karana. Konsep tersebut didasari untuk memberikan sebuah pengorbanan suci agar alam dibersihkan dari kekuatan jahat dan manusia bisa hidup dalam harmoni dengan alam di sekitarnya. Apalagi, berbagai bencana alam yang muncul akhir-akhir ini membuat ritual itu patut dilakukan.

Sejatinya, ritual Mulang Pekelem dan Bumi Sudha adalah perjalanan panjang yang akan melelahkan, menyita waktu, pikiran, dan tenaga luar biasa. Pasalnya, selama tiga hari mereka akan mendaki Gunung Rinjani untuk sampai di Danau Segara Anak, yang diyakini sebagai pusat spiritual di Tanah Sasak.

Tempat para Dewa kerap berkumpul untuk memberikan anugerah kehidupan. Di kawasan ini, tumbuh-tumbuhan dan binatang hidup dengan penuh vitalitas. Itu semua dipercaya berkat dukungan energi dari Sang Gunung. Air dari Danau Segara Anak mengairi sebagian besar sawah di Pulau Lombok dan menjadi sumber kehidupan bagi orang Sasak. Tak heran, Gunung Rinjani kerap disebut sebagai gunung kehidupan.
Konon, kesucian Gunung Rinjani telah diyakini umat Hindu sejak abad XVI. Pada kurun waktu itulah Yadnya Mulang Pekelem dan Bumi Sudha pertama kali digelar. Saat itu, Kerajaan Karang Asem dilanda kemarau panjang yang mengakibatkan kekeringan dan wabah penyakit. Menghadapi bencana ini, Raja Anglurah Karangasem melakukan sembahyang dan semadi di Gunung Sari.

Dalam tapanya, Raja mendapat bisikan untuk melakukan Yadnya Bumi Sudha dan Mulang Pekelem pada Purnama Sasih Kelima di Danau Segara Anak, Gunung Rinjani. Ajaib, seusai ritual digelar, hujan turun membasahi bumi dan membawa berkah kesehatan bagi masyarakat setempat.  Sejak itulah, upacara tersebut hingga kini tetap diteruskan para penganut agama Hindu di Lombok. (net)

 

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About kicknews. today

Dalam Kategori Ini

Dijemput di Kantor TNGR, Pendaki yang Selamat itu Akhirnya Pulang ke Jakarta

  Mataram – Pendaki Siti Mariam (29) asal Cakung Jakarta Timur yang mengalami musibah jatuh ...