Toleransi, Apa Kabarmu?

ilustrasi - toleransi (net)
ilustrasi – toleransi (net)

 

ceritakita.kicknews.today Jakarta -Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat.

Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat menghormati keberadaan agama atau kepercayaan lainnya yang berbeda. Istilah toleransi juga digunakan dengan menggunakan definisi “kelompok” yang lebih luas, misalnya partai politik, orientasi seksual, dan lain-lain.

Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan kritik mengenai prinsip-prinsip toleransi, baik dari kaum liberal maupun konservatif.

Dan, alkisah kerusuhan yang mengatasnamakan agama ternyata masih saja terjadi.  Kini kejadian itu melanda negeri ini, setelah di Karubaga, Kabupaten Tolikara, provinsi Papua, kini di Aceh Singkil, Aceh.

Atas kejadian itu, publik memperoleh persepsi bahwa kemajemukan dalam etnis dan agama di negeri ini masih merupakan potensi paling rawan menimbulkan konflik.

Keragaman atau keanekaragaman adalah realitas objektif dari alam semesta dan isinya, termasuk planet bumi dengan segala penghuninya yang tak dapat diingkari atau dinafikan karena merupakan anugerah Tuhan.

Sungguh menyedihkan, justru peristiwa itu terjadi di Provinsi Aceh yang mengemban ikon sebagai daerah Serambi Mekkah.

Warga Aceh yang relegius lebih paham tentang keragaman dalam Islam yang mengandung makna di situ ada ruang untuk saling kenal. Paham bahwa perbedaan sejatinya adalah tanda-tanda kebesaran Allah SWT, bagi mereka yang mau berfikir dan berilmu pengetahuan.

Para umara dan ulama setempat mengerti bahwa di dalam keragaman itu terdapat titik rawan, yaitu munculnya konflik, permusuhan dan disintegrasi (cerai-berai).

Namun, bagi orang yang berilmu, di sisi lain bahwa keragaman justru sangat potensi untuk terwujudnya harmoni, silaturahim, persaudaraan dan integrasi (bersatu padu) dan berlomba-loba dalam kebaikan.

Siapa pun akan sedih. Kabupaten Aceh Singkil dengan luas 2.185 km persegi dan berpenduduk sekitar 107.921 jiwa (2014) dilanda kerusuhan karena terpapar virus intoleransi.

Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam menyikapi intoleransi di Singkil Aceh menyatakan prihatinan, karena peristiwa itu tidak selaras dengan Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi terhadap berbagai agama.

Terungkap bahwa pada 1-3-5 dan 8 Mei 2012 Tim Monitoring yang dibentuk oleh pemerintah Kabupaten Aceh Singkil melakukan penyegelan 20 rumah ibadah. Ada pun daftar 20 rumah ibadah yang telah disegel tersebut terdiri dari 10 Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), empat Gereja Katolik, tiga Gereja Misi Injili Indonesia (GMII), satu Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI), satu Gereja Jemaat Kristen Indonesia (JKI) dan satu Rumah Ibadah Agama Lokal (Aliran Kepercayaan) Pambi.

Terkait dengan konflik bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil hingga kini belum punya data konkret terkait jumlah warganya yang mengungsi ke Sumatera Utara (Sumut), pascabentrokan yang menewaskan seorang warga dan menghanguskan rumah ibadah.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Helfi Assegaf, di Medan, Rabu (14/10), mengatakan, warga Aceh Singkil yang mengungsi ke dua kabupaten di Sumut yakni Tapanuli Tengah 3.433 orang dan Pakpak Bharat (976 orang).

Kepolisian Daerah Sumut mencatat adanya 4.409 warga Kabupaten Aceh Singkil mengungsi ke provinsi itu untuk menghindari konflik yang terjadi. Jumlah itu terus meningkat dalam beberapa hari ke depan.

Di Tapanuli Tengah, warga Aceh Singkil tersebut ditampung di lima lokasi di Kecamatan Manduamas yakni Gereja HKI, Balai Desa Saragih, SMP 1 Atap Saragih, Gereja HKBP Saragih, dan Katolik Paroki Tumba Jahe.

Pengungsi itu diperkirakan tersebar di Pak-Pak Barat, Sidikalang dan Tapanuli Tengah, Sumut. Warga yang mengungsi diketahui bukan hanya umat Kristiani tapi juga Muslim.

Bupati Aceh Singkil, Safriadi SH mengatakan, pascainsiden antarwarga beda agama di Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, Selasa (13/10/2015) siang, sudah 7.000 orang warga Aceh Singkil yang eksodus ke wilayah Sumut.

Wakil Bupati Aceh Singkil, Dulmusrid membenarkan, sebagian warganya eksodus ke provinsi tetangga, karena ketakutan setelah insiden penyerangan terhadap rumah ibadah disertai bentrokan massa, pada 12 Oktober 2015.

Negara toleran Indonesia adalah negara toleransi yang menghargai berbagai agama yang ada di masyarakat, kata Jusuf Kalla, menyikapi kejadian di Singkil pada acara menyambut Tahun Baru Islam 1437 Hijriyah di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu (14/10).

Hidup bertoleransi harus dapat terus dilakukan oleh semua warga. Dan, untuk kejadian di Singkil harus diselesaikan dengan proses hukum yang berlaku.

Sebelumnya Jusuf Kalla pernah mengatakan di Indonesia kehidupan antarumat beragama harmonis yang terindikasi dari banyaknya hari-hari besar keagamaan yang mencakup seluruh agama diakui di dalam kerangka negara Republik Indonesia.

Enam agama itu: Kristen, Protestan, Islam, Buddha, Hindu, Khonghucu, yang semuanya ada hari nasional yang diakui oleh negara, meski jumlah pemiliknya berada di bawah satu persen dari keseluruhan penduduk. Sementara di benua lain seperti Eropa, ujar dia, yang memiliki jumlah populasi Islam yang kecil tapi signifikan, tidak ada negara yang mengakui perayaan Idul Fitri disana.

Di sisi lain Kalla juga menyatakan kesedihannya terhadap banyaknya penduduk dari negara-negara berpenduduk mayoritas Islam di kawasan Timur Tengah yang berhijrah atau mengungsi ke Eropa karena konflik di kawasan tersebut.

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsudin mengingatkan umat berbagai agama agar jangan menyalahgunakan watak sejati agama yang pro-perdamaian, kerukunan, dan kasih sayang.

Menyikapi peristiwa Aceh Singkil itu, Din di sela-sela Rembuk Nasional Tokoh Agama Menanggapi Perusakan Lingkungan Hidup dan Menahan Laju Perubahan Iklim di Jakarta, Kamis (15/10), menegaskan, umat berbagai agama harus makin menyadari bahwa agama sejatinya sangat properdamaian, kerukunan, kasih sayang. Itu watak sejati agama, makanya jangan disalahgunakan.

Hal mendasar ini, katanya, harus terus-menerus diberikan lewat pendidikan, ceramah, hingga khutbah keagamaan. Nilai-nilai yang menyatukan yakni Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika harus terus ditanamkan pada masyarakat.

Terkait pembangunan rumah ibadah di satu lokasi, Din mengatakan agar seluruh umat beragama mengintrospeksi.

“Kalau di satu tempat, contoh di Tolikara, Papua, masyoritas Kristen maka kalangan Muslim harus tahu diri, tidak perlu banyak masjid, mungkin cukup satu atau dua saja. Sebaliknya, contoh di Aceh yang mayoritas penduduknya memeluk Islam ya jangan lebih banyak gerejanya,” ujar Din.

Ia juga mengumpamakan kondisi di Denpasar yang mayoritas beragama Hindu karena itu sulit untuk membangun masjid atau mushalla, namun umat Islam disana mengikuti kondisi itu.

“Di daerah lain harusnya juga bisa melakukan hal sama”.

Jika hal-hal semacam itu tidak diperhatikan bisa jadi faktor pemicu konflik. Dan jika hal tersebut sudah terjadi, kalangan agama pun akan sulit meredam. Jika ditambah dengan faktor pemicu lain yakni politik, maka kerancuan semakin terjadi.

Berbeda dengan pendapat Din, anggota Dewan Pertimbangan Presiden Hasyim Muzadi menyoroti peristiwa Tolikara dan Singkil Aceh sebagai adanya kelemahan koordinasi intelijen.

“Saya melihat intelijennya tidak lemah, tapi koordinasinya yang harus diperkuat,” ujarnya ketika ditemui di sela pertemuan Hikmah Hijriah untuk Restorasi Indonesia dalam rangkaian HUT ke-4 Partai NasDem di Kantor DPW NasDem di Surabaya, Rabu malam (14/10).

Menurut dia, dengan dimilikinya badan intelijen di semua sektor, yakni Badan Intelijen Negara (BIN), intelijen kepolisian, intelijen TNI, intelijen pemerintah daerah maupun intelijen kejaksaan, diharapkan bisa semakin memperkuat.

“Masing-masing sektor itu punya intelijen sendiri-sendiri, tapi tidak bergerak simultan karena belum ada undang-undang yang terpadu. Nah, disitulah masalahnya, bukan kualitas penyelenggara intelijennya,” ucapnya.

Sebagai salah satu bentuk antisipasi, kata dia, sangat diperlukan penyadaran ke masyarakat dan peningkatan kemampuan pertahanan keamanan Negara, baik secara sistem maupun secara penyelenggara keamanan itu sendiri.

Dibungkus agama Mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut menyarankan pemerintah melakukan investigasi dari dua sisi, yakni sisi kejadian dan sesi kemungkinan karena didesain. Dilihat dari sisi kejadiannya, kata dia, tentu merupakan kriminalitas yang dibungkus agama dan harus ada sikap tegas dari aparat penegak hukum. Termasuk tentunya para pemangku kepentingan setempat.

Sedangkan dari sisi lainnya, lanjut dia, diminta bagaimana sistem pertahanan keamanan Negara diperbaiki sehingga tidak sampai menjadi korban desain dari orang lain.

“Itu saja kok obatnya. Tapi kalau tidak dilakukan maka terus seperti ini,” kata pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang tersebut.

Beranjak dari realitas itu, perlu dicari solusi tepat. Harus ada kesadaran bahwa untuk menghilangkan sama sekali potensi konflik adalah suatu hal yang sangat sulit, alias mustahil. Jauh hari para dai seperti Salmi A. Kadir, Abd Gani Jumat dan Adnan Mahmud, telah mengingatkan akan pentingnya membangun kerukunan dengan basis Al-Qur’an.

Para dai ini kerap tampil dan selalu membawakan pesan kerukunan dan kedamaian di berbagai tempat.

Esensinya, menurut Kanwil Kementerian Agama Maluku, H.M. Thair Abdullah, adalah bagaimana membangun hubungan antarwarga yang ideal, harmonis, berkeadilan, tidak ada kesenjangan sosial tajam dan jauh dari seluruh potensi yang dapat memuci konflik.

Jadi, menurut Tahir yang punya pengalaman daerahnya dilanda konflik, para ulama dan umara harus memahami perubahan global bahwa dewasa ini sulit mencari masyarakat atau negara yang dalam kepenganutan agamanya seragam. Kalau ada negara menganut satu agama, maka keragaman pun terjadi pada level penafsiran yang pada gilirannya melahirkan keragaman pada level pelembagaan.

Dengan begitu harus disadari ada perbedaan syariat pada setiap agama. Namun di antara perbedaan tersebut pasti ada hal-hal yang menjadi titik temu dari setiap agama tersebut. Karena itu, perbedaan syariat tidak mesti dijadikan sebagai ajang permusuhan dan perseteruan di antara umat beragama. Islam adalah penyempurna dari kitab-kitab yang dibawa oleh para nabi sebelumnya.

Itu berarti, Islam adalah satu mata rantai dengan nabi-nabi sebelumnya, seperti Nabi Musa dan Nabi Isa, yang kesemuanya bermuara kepada Nabi Ibrahim yang mengajarkan tentang monoteisme atau ketauhidan.

Dalam keberagaman, Islam pun menekankan pentingnya toleransi sebagai salah satu inti ajarannya. Seperti kasih sayang, kebijaksanaan, kemaslahatan universal dan keadilan. Pemeluk Islam pun diwjibkan untuk menyampaikan ajaran toleransi di tengah-tengah umat.

Perbedaan agama bukan penghalang untuk merajut tali persaudaraan antarsesama manusia berlainan agama. Nabi Muhammad SAW lahir ke dunia bukan untuk membela satu golongan, etnis dan agama tertentu saja melainkan sebagai rahmat seluruh alam. Karena itu tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk membenci orang lain disebabkan karena ia bukan penganut Islam.

Membiarkan orang lain tetap memeluk agama non-Islam adalah bagian dari perintah Islam itu sendiri.

Bahkan toleransi yang ditunjukkan oleh Islam sedemikian kokoh, sehingga umat Muslim dilarang memaki tuhan-tuhan yang disembah oleh orang-orang musrik. Mengapa itu justru terjadi di bumi Serambi Mekkah.

Insiden Singkil Aceh bisa jadi sebagai potret dari kelengahan semua pihak di tengah warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat