in

Dialog Dengan Sang Guru : Nikmati jamuan-Nya tanpa perlu menanyakan ramuan-Nya

ilustrasi - mengaji (net)

thinkgreen.kicknews.today – Mentari masih berselimut dingin dipuncak Gunung Rinjani, cahayanya terjebak kabut yang masih pekat.  Burung-burung enggan beranjak dari sarangnya, tapi aku dan guru sudah duduk berhadapan didekat mimbar mushalla tuanya,

“Muridku,” katanya datar dengan jemarinya yang tak pernah berhenti lafazkan irama tasbih .

“iya guru,” lantunku hormat.

“Muridku, sangatlah dungu orang yang menginginkan terjadinya sesuatu yang tidak dikehendaki Allah pada suatu waktu.” katanya, lalu diam sambil menarik napas segar pagi dengan panjang.

“Kita ini muridku, sering keliru dalam menyikapi pengabulan atas do’a.  Semua itu disebabkan karena kita tidak pernah mau menakar kedudukan kita disisi Allah, tapi malah mempertanyakan kedudukan Allah disisi kita.  Allah menyapa dengan sangat jelas dan terang pada kita melalui asma-Nya.  Sayangnya, kita malah tidak pernah mau menghiraukan sapaan-Nya itu dan malah lebih memperhatikan permohonan dan permintaan kita pada-Nya,” Guru mendesah, bibirnya lafazkan istighfar, Astagfirullah. “Kehadiran-Nya muridku, yang nyata, terhalangi oleh khayalan kita.  Padahal, apa yang kita harapkan senantiasa selalu dikabulkan oleh-Nya menurut kadar-Nya.  Bukan menurut kadar kita.  Sesuai dengan kehendak-Nya, bukan sesuai dengan kehendak dan kemauan kita.” lanjutnya dengan nada yang lebih bertenaga,

Aku mengangguk, dan burung-burung pagi mulai terdengar berkeliaran membawa kicau mereka di telingaku.  Satu dua ekor masuk kedalam mushalla, menatap aku yang makin tunduk.

“Berserahlah, muridku.  Berserahlah pada keputusan-Nya.  Jika engkau terpilih, engkau tak akan tersisih.”

cuit..cuiitt… dendang para burung, seakan mengerti apa yang dikatan guru.  Atau mereka memang mengerti, dan menggodaku.

Mentari masih malu-malu, tapi guru semakin menggebu.

“Muridku, janganlah engkau meminta kepada Allah untuk dikeluarkan dari satu kondisi untuk ditempatkan pada kondisi yang lain.  Sebab, jika memang Allah menghendaki, tentu Dia akan menempatkanmu tanpa harus mengeluarkanmu dari kondisi sebelumnya.”

“Maksud guru?” tanyaku bingung.

“This Life muridku, adalah pergulatan yang panjang.  Jika kita tidak ingin kalah, sebaiknya kita ikuti saja irama-Nya.  Kita tidak perlu mencoba untuk beralih dari satu keadaan rohani ke keadaan rohani yang lain.  Karena pada setiap episode hidup kita itu sebenarnya kita sedang diajarkan untuk memiliki sikap rohani yang bijak dan cerdas.  Kita juga tidak layak dan pantas menentukan tahapan-tahapan perilaku kita.  Sabar, syukur, tobat serta tawakkal akan senantiasa menemani dan mengiringi keadaan yang kita jalani dan alami.  Tugas kita muridku, hanyalah menjalani apa yang harus kita alami.  Yakinlah, bila Allah menghendaki, bisa saja ente menjadi pribadi yang selalu memiliki sifat berserah, dan juga tetap sabar.  Nikmatilah jamuan-Nya muridku, tanpa perlu menanyakan ramuan-Nya.”

Guru menutup dialognya denganku tanpa kata-kata lagi, dibiarkan aku tenggelam dalam perenunganku dengan petuahnya tadi.  Ia bangkit lalu mendirikan shalat sunnat, saat mentari mulai bergeser dari puncak Rinjani.

Tinggalkan Balasan