BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Lagi, Seorang Anak Perempuan Menjadi Korban Pencabulan

Kasubdit IV AKBP I Putu Bagiartana kepada wartawan di Mataram, menjelaskan, kasus pencabulan pada anak yang berhasil terungkap setelah pihaknya mendapat laporan dari keluarga korban. (kicknews Foto: Dani)

Kasubdit IV AKBP I Putu Bagiartana kepada wartawan di Mataram, menjelaskan kasus pencabulan pada anak yang berhasil terungkap setelah pihaknya mendapat laporan dari keluarga korban. (Foto kicknews)

 

kicknews.today Mataram – Direktur Ditreskrimum Polda NTB melalui Kasubdit IV AKBP I Putu Bagiartana kepada wartawan kamis (15/10) di Mataram, menjelaskan terungkapnya kasus pencabulan pada anak-anak setelah pihaknya mendapat laporan dari keluarga korban.

Korban, kata dia, tidak lain adalah anak majikan tempatnya bekerja seorang warga negara asing (WNA) yang telah menikah dengan perempuan asli Lombok. “Jadi korbannya tidak lain seperti anak asuhnya sendiri,” ucap Bagiartana.

Kasus pencabulan ini terjadi di sebuah kawasan wisata yang terkenal di Lombok, yakni Gili Trawangan. Pelakunya berinisial SL (36), asal Kabupaten Lombok Timur yang bekerja sebagai perajin kayu di Gili Trawangan.

SL melakukan tindak pencabulan terhadap anak perempuan yang masih berusia delapan tahun itu pada September 2015, dan aksinya diketahui setelah orang tua korban mendengar pengakuan dari si anak.

“Jadi kasusnya terungkap, setelah ada keberanian dari korban yang melapor kepada orang tuanya. Berawal dari itu, SL kami amankan,” katanya.

Bahkan, dari keterangan yang diperoleh pelaku, korban sudah dua kali dicabuli oleh SL. “Kesempatan itu dilakukan pada malam hari. Karena sudah merasa dekat, anak itu sering mendatangi kamar pelaku dan tidur dipelukan SL,” ujarnya.

Namun, kedekatannya dengan anak di bawah umur itu malah dijadikan kesempatan SL untuk menjalankan niat bejatnya tersebut.

Pelaku SL kini dijerat dengan Undang-Undang RI Nomor 35/2014 sebagaimana terkait perubahan UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 76 ayat D dan E.

“Pelaku terancam pidana penjara minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun dengan denda Rp5 miliar, sebagaimana yang disebutkan dalam pasal 81 dan 82 UU Nomor 35/2014,” ucapnya.

Lebih lanjut, kata dia, untuk psikologis korban yang masih di bawah umur itu sudah ditangani secara terpadu oleh sejumlah pihak terkait, baik dari pendampingan LPA, lembaga sosial Paramita, PPT, maupun pihak RSJ yang memiliki ruang untuk penanganan kasus kekerasan terhadap anak.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Kapolda NTB Periksa Kesiapan Pra Pengamanan Pilkada Serentak

  kicknews.today – Pilkada serentak di NTB yang akan dihelat pada 2018 mendatang, menjadi atensi ...