Jadilah yang Pertama Tau

“Kamu jadi artis sinetron aja,” Tweet Sang Pemimpin

ceritakita.kicknews.today – “Pak @ganjarpranowo cara biar cepat kaya terus dikelilingi cewek-cewek kayak di sinetron gimana, ya, Pak?” Pertanyaan itu muncul dari akun @saputroadit_, “followers” Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Meski pertanyaan itu oleh banyak orang dianggap tidak penting, orang nomor satu di provinsi Jawa Tengah ini tetap saja merespons.

“Kamu jadi artis sinetron saja,” jawab Ganjar melalui akun resminya @ganjarpranowo.

Hal ini pun ditanggapi oleh para netizen lain, salah satunya dari pemilik akun @armanngablak yang memberikan komentar: “Jan pertanyaanne (aduh pertanyaannya,red).” Aditya Tri Saputro (19), pemilik akun @saputroadit_ mengaku tidak menyangka jika pertanyaanya itu dijawab oleh Ganjar.

“Kadang di Twitter kita sering iseng ‘mention’ siapa gitu, ya, mungkin artis atau siapa yang terkenal. Nah, ini dijawab sama Pak Ganjar, ya, rasanya gimana gitu, padahal pasti orang akan bilang itu pertanyaan konyol,” ujarnya.

Adit, sapaan akrab pemuda kelahiran 30 Juli itu sudah menjadi follower Ganjar Pranowo sejak resmi dilantik menjadi Gubernur Jateng.

Ia menceritakan bahwa ternyata banyak pertanyaan ataupun pernyataan yang oleh banyak orang dianggap tidak penting disampaikan oleh netizen kepada gubernur.

“Saya baca-baca di akunnya Pak Ganjar, ada juga yang minta doa restu mau nikah atau doa restu mau skripsi atau apalah yang justru menyangkut hal pribadi, istilahnya curhat (curahan hati, red.) dan itu ditanggapi dengan baik, tetapi, ya, tidak sedikit memang yang serius mengeluhkan berbagai pelayanan atau mengapresiasi keberhasilan pembangunan,” tambahnya.

Menurut Adit, dibalasnya pertanyaan yang dianggap konyol itu diibaratkan sebagai perhatian orang tua pada anaknya atau sesama teman sehingga akan muncul kedekatan personal meski tanpa bertemu secara fisik.

Komunikasi via twitter, kata dia, membuat masyarakat merasa dekat dengan pemimpinnya. Hal ini ungkap Adit menjadi hal baru yang sebelumnya tidak dirasakan warga Jateng.

“Orang pasti senanglah, mention gubernur terus dijawab, ya, merasa ‘diuwongke’ dan menjadi kebanggaan tersendiri meski tidak ketemu secara langsung seolah sudah seperti teman akrab, kok, ada waktu terus buat menjawab mention di Twitter, ya, padahal jadi gubernur pasti supersibuk, semoga pekerjaan yang lain tidak terabaikan,” ujarnya lagi sembari tersenyum.

Praktisi media sosial A. Sudibyo mengatakan bahwa sejak dilantik sebagai Gubernur Jateng pada tanggal 23 Agustus 2013, Ganjar Pranowo memang gencar memanfaatkan media sosial, terutama Twitter untuk lebih dekat dengan rakyat.

Menurut dia, Ganjar secara tidak langsung mengajak jajarannya, baik di lingkungan pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah, dan juga masyarakat untuk lebih “melek” teknologi informasi sehingga berbagai media sosial yang ada bisa dimanfaatkan untuk saling bertukar pendapat ataupun menyampaikan keluhan guna menyelesaikan berbagai masalah yang muncul di Jateng.

“Pemanfaatan media sosial ini dalam berkomunikasi dengan masyarakat dinilai lebih cepat daripada penyampaian keluhan secara konvensional, apalagi dengan wilayah Jateng yang begitu luas dan hal ini juga banyak dilakukan pimpinan daerah di berbagai kota besar di Indonesia, dan nyatanya cukup berhasil,” paparnya.

Pemanfaatan media sosial, menurut dia, justru memberikan banyak keuntungan dalam mengungkap sejumlah permasalahan yang ada dan orang-orang yang ingin menyampaikan keluhannya merasa tidak sungkan atau lebih blak-blakan lewat media sosial.

“Justru kalau bertemu langsung kadang malah minder. Kalau lewat media sosial, apa yang disampaikan lebih apa adanya, baik itu akun asli maupun akun anonim, setidaknya Pak Ganjar bisa mendapat suatu informasi. Pak Ganjar juga membuka pengaduan masyarakat melalui e-mail (surat elektronik, red.) dan website dengan programnya ‘Lapor Gub’,” ujarnya.

Bukan hanya dalam penyampaian, dilihat dari respons jajaran pemerintah mulai tingkat provinsi hingga kabupaten/kota juga dinilai lebih cepat melalui media sosial ini, dan Ganjar sudah merangkul pemilik akun-akun di daerah untuk bersama membangun Jawa Tengah.

Kendati demikian, aktifnya sang gubernur melalui media sosial juga banyak menimbulkan pro dan kontra. Relatif banyak netizen menilai Ganjar tidak bekerja, malah sibuk menjawab “mention” tidak penting di Twitter.

Pengamat komunikasi Gunawan Witjaksono mengatakan bahwa penggunaan media sosial hanya efektif untuk kalangan tertentu sebab tidak semua orang memanfaatkan media sosial seperti Twitter tersebut.

“Akan tetapi, kalau dibandingkan media massa umum seperti penyiaran, ya, jauh karena media massa umum itu jangkauannya lebih luas,” katanya.

Pemanfaatan media sosial oleh para pejabat daerah untuk koordinasi, kata dia, juga bisa dilakukan jika hal itu benar-benar dinilai efektif, terlebih lagi jika bisa untuk menghemat anggaran dibandingkan dengan turun langsung ke daerah yang membutuhkan biaya tidak sedikit.

Menurut dia, Ganjar harus lebih selektif dalam menanggapi apa yang disampaikan masyarakat melalui media sosial tersebut karena ada yang benar-benar penting. Akan tetapi, tidak jarang pula yang hanya sekadar iseng.

“Jika usulan atau yang disampaikan itu berhubungan dengan kepentingan orang banyak, bisa ditindaklanjuti dengan mengirimkan semacam tim kecil untuk investigasi, benar atau tidak. Akan tetapi, kalau yang disampaikan hanya iseng, ya, anggap saja angin lalu,” saran pria yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang itu.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengakui memang banyak yang “mention” bercanda yang dikirim ke Twitternya. Namun, banyak juga yang serius sehingga laporannya bisa segera direspons.

“Ada yang melapor sudah 30 tahun lebih jalan menuju Kedungombo tidak diperbaiki. Setelah lapor via Twitter, akhirnya diperbaiki karena langsung saya koordinasikan dengan BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai),” katanya.

Hal itu juga terjadi saat Ganjar melakukan kunjungan kerja di Randublatung, Kabupaten Blora yang juga akhirnya diperbaiki.

“Kalau perbaikan itu tidak menggunakan anggaran perubahan 2015, ya, pakai anggaran umum 2016,” katanya.

Ia menambahkan, “Setelah diperbaiki banyak yang merespons dan mengatakan kini tidak lagi ‘bedakan’ (memakai bedak, red.) berupa debu,” ujarnya.

Ganjar menyebutkan jika hal itu cukup menyenangkan sebab relatif banyak juga laporan dari masyarakat melalui Twitter yang terselesaikan seperti halnya sejumlah permasalahan sosial, pendidikan dan masalah pelayanan umum lainnya.

“Jadi, yang harus direspons cepat atau ‘quick response’ bisa selesai. Namun, yang butuh proses panjang, ya, saya harus anggarkan, minimal ini bagian dari misi politik saya dan Pak Heru (Wakil Gubernur Heru Sudjatmoko, red.) untuk memberikan pendidikan politik, mereka mengerti dan harus terlibat,” ujarnya.

Terkait dengan apakah penanganan aduan melalui media sosial tersebut sudah efektif, Ganjar mengatakan bahwa hingga saat ini dirasa belum sepenuhnya efektif.

Jika dihitung dengan persentase, Ganjar memperkirakan 80 persen efektif dan ditindaklanjuti.

“Karena saya ancam betul itu kalau tidak ditindaklanjuti,” katanya.

Menurut dia, Twitter merupakan salah satu media sosial gratisan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di tengah masyarakat.

Meski begitu, secara umum dalam pencapaian dua tahun kepemimpinannya, memang masih relatif banyak kekurangan. Akan tetapi, Ganjar menilai selalu ada progres yang mengarah pada visi dan misi ketika dirinya mencalonkan sebagai orang nomor satu di Jateng.

Selama dua tahun kepemimpinannya, Ganjar beserta jajarannya menggenjot perbaikan infrastruktur yang ditargetkan selesai pada tahun 2017.

Saat ini Ganjar sedang menyiapkan jurus-jurus baru terkait dengan langkah pemprov serta tetap menyesuaikan dengan kondisi yang berkembang di tengah masyarakat.

Selain fokus pada infrastruktur, Ganjar juga mendorong reformasi birokrasi di 35 kabupaten/kota serta mendorong semua pejabat dan juga kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) memiliki dan mengaktifkan akun di Twitter guna memudahkan koordinasi atas aduan dari masyarakat.

Namun, tampaknya penggunaan Twitter seperti yang Ganjar lakukan ini tidak diikuti oleh wakilnya, Heru Sudjatmoko.

Jika mencari nama Heru Sudjatmoko di Twitter, memang muncul sejumlah akun atas nama itu. Akan tetapi, akun-akun itu tidak aktif. Hal ini dilihat dari sedikitnya “followers” serta dalam beberapa waktu terakhir ini tidak “berkicau” pada media sosial berlambang burung tersebut.

Bahkan, dimungkinkan jika akun itu tidak dibuat sendiri oleh sang wakil gubernur.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Jateng Riyono menilai pemanfaatan Twitter oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo belum efektif. Meski demikian, cukup membantu berkomunikasi secara cepat dengan masyarakat.

“Cara mengukur keefektifan penggunaan Twitter itu bagaimana? Tidak semua masyarakat itu melek teknologi lho,” ujar pria yang mempunyai akun Twitter @Riyono_PPNSI itu.

Menurut politikus Partai Keadilan Sejahtera ini, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo harus mulai menggunakan media sosial selain Twitter, seperti Facebook, agar bisa terus berkomunikasi dengan masyarakat lain yang tidak memiliki akun Twitter.

Pembangunan infrastruktur seperti tertuang pada nomor sembilan dari 11 program unggulan pasangan Ganjar-Heru, memang belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh masyarakat di Jateng. Namun, keberadaan Ganjar melalui Twitter yang membuka diri untuk rakyatnya ini setidaknya bisa sedikit memberi angin segar bagi masyarakat untuk bisa berkeluh kesah secara langsung di dunia maya dengan pemimpinnya.

Tagline “Tuanku ya rakyat, gubernur cuma mandat” yang tertuang di bio akun Twitter sang gubernur itu tentu menjadi harapan bagi warga Jateng untuk benar-benar diwujudkan dalam melayani masyarakat.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat