Busana Muslim Ghea Mencuri Perhatian Di Islamic Fashion Festival Maroko

 

ilustrasi - gelar Islamic Fashion Fetival Monte Carlo (net)
ilustrasi – gelar Islamic Fashion Fetival Monte Carlo (net)

kicknews.today Zeynita Gibbons Marrakesh – Busana Muslim karya perancang busana terkemuka Indonesia Ghea Panggabean mencuri perhatian masyarakat di Maroko dalam acara peragaan busana memperingati 10 tahun Islamic Fashion Festival (IFF) bertema “One Thousand & One Night” di Balqis a Palais Soleiman, Marrakesh, Maroko.

Hasil karya perancang terkemuka Indonesia Ghea Panggabean mendapat sambutan dari sekitar 200 undangan, menjadi penutup peragaan busana yang dihadiri Raja Pahang dan istri serta para princes dari Malaysia dan Prince Fahd of Pahang dengan menampilkan busana dengan Arabesque.

“Saya senang bisa berpartisipasi dalam peringatan 10 tahun IFF yang saya ikuti sejak awal terbentuknya Islamic Fashion Festival yang digagas Dato Sri Raja Rezza Shah,” ujar Ghea Panggabean kepada Antara London, Selasa.

Menurut Ghea, berkunjung ke Marrakesh, salah satu kota budaya yang dilindungi badan PBB bidang sosial budaya (UNESCO) menjadi impiannya sejak kecil. Bahkan sejak menjadi disainer Ghea ingin menampilkan rancangan busananya di Marrakesh dimana disainer terkemuka Saint Laurent menghabiskan hari terakhirnya dan dimakamkan di Marakesh.

Memperingati 10 tahun perjalanan Islamic Fashion Festival juga tampil disainer Indonesia lainnya Jeny Tjahyawati yang berkolaborasi dengan Yajamell dari Malaysia, serta disainer asal Casablanca Zineb Joundy dan disainer Malaysia Melinda Looi.

Rancangan busana Ghea Panggabean untuk IFF kali ini terinspirasi dari kecantikan dan magis dari “Kisah 1001 Malam” dan Seni Orieantalis yang dituangkan dalam bentuk mozaik dan motif karpet Persia yang diterjemahkan kedalam rancangan busana malam yang elegent dan fashionable.

“Its fantastic, busana Ghea is real collection,” ujar Beatrice Paul, disainer asal Perancis yang pengalaman dalam industri fashion selama lebih dari 40 tahun dan memiliki butik di hotel terkenal dan tertua di dunia, La Mamounia di Marrakesh.

Menurut Beatrice Paul, koleksi rancangan Ghea yang berbentuk gaun malam dalam sentuhan bentuk mozaik dan busana kaftan Maroko serta coats panjang dipadukan dengan jelana harem membuat busana malam sangat berbeda dengan busana perancang lainnya.

Ghea mengatakan selama 10 tahun mengikuti perjalanan panjang Islamic Fashion Festival banyak pengalaman yang diperoleh bersama dengan disainer dari mancanegara berkeliling dunia mempromosikan busana Muslim sebagai wakil dari Indonesia.

Diakuinya untuk mengikuti peragaan busana memperingati perjalanan 10 tahun IFF, Ghea mempersiapkannya sejak lama ketika penyelenggaraan IFF terakhir yang diadakan di Cannes bulan Mei 2015 yang dalam rangkaian Festival Film Cannes.

Desainer yang terkenal akan rancangan busananya yang terinspirasi dari kekayaan budaya Indonesia itu mengatakan bahwa kali ini ia menampilkan rancangan busana yang berbeda dari biasanya.

Motik mozaik yang menjadi ciri khas kota Marrakesh serta motif karpet dengan warna terakota dituangkan dalam 20 rancangan busana yang diperagakan dalam tiga tema, mozaik marrakesh, aneka motif karpet dan morif yang banyak terdapat di Maroko paslye.

Sementara itu, Dato Sri Raja Rezza Shah mengatakan, Ghea selalu konsisten dengan rancangannya yang mengangkat kain tradisional Indonesia, namun kali ini, tertantang untuk menampilkan busana dengan motif yang berbeda.

Rancangan Ghea yang telah berkarier di dunia mode selama lebih dari 34 tahun, selalu berani, megah dengan warna-warna yang mempesona, berkarya menurut perputaran zaman, membawa innovasi baru di dunia fashion baik itu secara nasional maupun Global itu selalu menambahkan sentuhan asesori sebagai pelengkap.

Untuk pagelaran busananya kali ini, wanita kelahiran Rotterdam tahun 1955 itu menyiapkan rancangan khusus yang terinspirasi mozaik, motif karpet yang disebut-sebut sebagai salah satu dari lima desainer yang selalu berpartisipasi di ajang Islamic Fashion Festival didukung oleh kosmetika Wardah dan Arta Graha Peduli.

Marrakesh yang menjadi pintu gerbang masuknya Islam ke daratan Eropa, dimana orang Arab menyebutnya Al-Mamlaka Al-Maghribiya atau Kerajaan Barat tempat makam disainer Saint Laurent.

Ghea Pangabean pun menyempat diri untuk ziarah ke taman kaktus dan galery serta memoriable sang perancang yang memberikannya banyak inspirasi bagi disainer dunia lainnya. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat