Menjaga NKRI

 

Patung Jendral Sudirman di Pulau Ndana (net)
Patung Jendral Sudirman di Pulau Ndana (net)

kicknews.today – Pagi baru saja dimulai. Mentari di ufuk barat perlahan-lahan mulai menampakkan diri menerangi.

Samar terdengar kicauan burung-burung bernyanyi menyambut pagi dengan riang. Deburan ombak yang menghempas seperti memukul-mukul gendang, jaraknya hanya mencapai 100 meter, terdengar berirama melempar pasir-pasir di pesisir pantai Ndana Nusa Tenggara Timur.

Sementara itu, sejumlah pria berbaju kaus loreng terlihat sibuk dan menyibukan diri untuk beraktivitas di pagi hari minggu yang cerah itu. Beberapa dari mereka memasak di dapur, ada pula yang langsung berbincang-bincang tentang pagi, tentang hari itu.

Di atas pulau seluas 12 hektare itu berdiri barak TNI seluas 500 meter persegi. Disana ada pula patung Jenderal Sudirman yang berdiri di atas lahan seluas 1 hektare yang di bawahnya ada sebuah pos pemantau dari Angkatan Laut.

Tidak jauh dari dapur tempat mereka memasak, sekitar 12 orang sedang memeriksa senjata laras panjangnya sambil bercanda dan tertawa di depan salah satu ruangan yang merupakan gudang senjata. Disisi lainnya, beberapa prajurit terlihat mulai menyiapkan lokasi di bawah patung Jenderal Sudirman yang nantinya akan digelar upacara peringatan HUT Ke-70 TNI di pulau tersebut.

Mereka adalah sejumlah anggota TNI yang tinggal di Pulau Ndana, NTT, pulau terdepan dan paling selatan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pulau Ndana merupakan salah satu pulau terluar Indonesia, berbatasan langsung dengan negara Australia. Secara geografis, pulau Ndana berada di selatan Pulau Rote yang dapat ditempuh selama 1 jam menggunakan perahu nelayan. Secara administrasi masuk dalam Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Walau berupa pulau kecil tidak berpenghuni, Pulau Ndana aman dari potensi klaim negara lain sebab pulau ini dijaga dan diduduki oleh Satgas Pengamanan Pulau Terluar XVII Yonif 5 Marinir, Yonif 743/PSY Angkatan Darat, dan Pangkalan Angkatan Laut Pulau Ndana.

“Kesibukan kami setiap pagi memang seperti ini. Kalau yang piket pada hari itu, dia harus bertugas untuk memasak untuk semua kami yang tinggal di sini,” kata Komandan Satgas Marinir Pasukan Pengaman Pulau Terluar XVII Kapten Mar. Walchit Hasim.

Tepat pukul 07.00 Wita, para pasukan tersebut sudah mulai bersiap-siap untuk bersama-sama sarapan agar selanjutnya bisa melakukan kegiatan yang sudah terjadwal.

Usai sarapan, beberapa pasukan berpakaian rapih dan lengkap, gagah dan perkasa mulai menenteng sejumlah alat-alat persejataan, ransel yang berisi sejumlah makanan ringan, serta sebuah radio yang mempermudah komunikasi antara para prajurit yang bertugas dan mereka yang berjaga di pos.

Tidak lupa pula, mereka membawa satu buah bendera Merah Putih yang ditancapkan di salah satu tas milik prajurit TNI yang akan segera berpatroli mengelilingi Pulau Ndana yang jaraknya mencapai 21 kilometer, dan jika dikelilingi bisa memakan waktu 8–10 jam.

“Setiap hari sudah tugas dari masing-masing kelompok pada satgas ini untuk berpatroli mengelilingi pulau ini. Ada yang dari darat, ada pula yang berpatroli menggunakan perahu karet untuk mengelilingi perairan pulau ini untuk mencegah nelayan-nelayan yang sengaja merusak ekosistem laut,” ujarnya.

Hari mulai siang. Dan mentari yang awalnya masih bersahabat, kini mulai terasa menyegat kulit. Di pulau terluar tersebut dari kejauhan hanya bisa terlihat hamparan padang rumput yang berwarna cokelat. Suhu udara yang diperkirakan mencapai 38 derajat Celsius justru tidak membuat para prajurit TNI di pulau tersebut menyerah.

Tinggal di pulau terluar jauh dari peradaban tidak membuat para prajurit itu melupakan aktivitas sehari-hari yang bermanfaat untuk mereka. Di sela-sela tugas negara menjaga keutuhan dan keamanan pulau terluar, mereka mengisi waktu dengan berbagai kegiatan menarik.

Wahid yang sudah tiga kali menjaga pulau terluar di wilayah Indonesia membagi tugas kepada para prajurit untuk menanam sayur-mayur, menyuling air, dan memancing ikan.

Di samping itu, kegiatan untuk menguatkan keimanan mereka juga selalu dilakukan, seperti pengajian bagi mereka yang beragama Islam dan ibadah bersama bagi mereka yang beragama Kristen. Hal itu bertujuan untuk menjaga kuatnya iman dari para prajurit di pulau terluar tersebut, apalagi berjauhan dari Pulau Rote.

Jika diperhatikan, kehidupan para prajurit di pulau terluar tersebut memang sedikit memprihatinkan. Pasalnya, untuk akomodasi logistik dari Pulau Rote ke Pulau Ndana hanya membutuhkan satu buah perahu karet. Sementara itu, untuk transportasi di darat, pihaknya hanya mempunyai sebuah motor tiga roda.

Namun, bagi Walchit, menjaga dan mengaman pulau terluar merupakan tugas pokok yang harus dilaksanakan. Hal tersebut karena merupakan tugas Ibu Pertiwi.

“Kami adalah anak. Selama ditugaskan oleh Ibu Pertiwi, ke mana saja untuk menjaga kedaulatan dan keamanan NKRI, kami selalu siap,” tuturnya.

Sebagai komandan Satgas di pulau tersebut, Walchit sendiri selalu memberikan motivasi kepada para prajuritnya agar selalu menerima tugas tersebut, selalu bersyukur, dan berterima kasih kepada Tuhan karena memang tugas di pulau terluar adalah suatu kehormatan tiada nilainya.

Bertepatan dengan HUT Ke-70 TNI, Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) VII mengelar upacara peringatan di pulau Ndana sebagai bagian dari perhatian bagi para pasukan di pulau terluar dan sebagai bukti bahwa TNI selalu hadir untuk menjaga pulau-pulau yang selalu menjadi incaran dari negara-negara tetangga.

“Gelar upacara peringatan HUT Ke-70 TNI di salah satu pulau terdepan di bagian selatan Indonesia ini merupakan perintah langsung dari Panglima TNI Gatot Nurmantyo,” kata Komandan Lantamal VII Kupang Brigjen TNI Mar. Denny Kurniady.

Ia menjelaskan bahwa tujuan upacara peringatan HUT TNI di pulau terdepan dan paling selatan Indonesia itu untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa TNI tetap setia dan siap dalam mengawal dan menjaga pulau-pulau terdepannya yang berbatasan dengan negara lain.

Pulau kecil berpasir putih itu sempat dikelola oleh seorang pengusaha dari Australia untuk kegiatan pariwisata beberapa tahun lalu. Namun, TNI langsung menempatkan prajuritnya di pulau tersebut untuk mencegah pencaplokan pulau tersebut secara ilegal.

Australia sudah mengusai Pulau Pasir (ashmore reef) yang menjadi tempat peristirahatan para nelayan tradisional Indonesia selepas mencari ikan dan biota lautnya di Laut Timor.

Kawasan Pulau Pasir yang kaya dengan ikan serta biota laut lainnya itu sudah ditetapkan oleh Australia sebagai cagar alam sehingga melarang nelayan Indonesia untuk mencari ikan di wilayah perairan sekitarnya.

Di gugusan “ashmore reef” terhadap beberapa kuburan milik nenek moyang orang Rote sehingga para nelayan dari Pulau Rote Ndao telah menjadikan gugusan pulau itu sebagai rumah mereka yang kedua.

“Mereka (Australia) sudah mengincar Pulau Ndana dengan modus mengembangkan pulau tersebut menjadi objek wisata,” tuturnya.

Kapolda NTT Brigjen Pol. Endang Sunjaya yang hadir saat HUT TNI di pulau tersebut mengatakan bahwa pihaknya akan memberikan bantuan kepada para prajurit di pulau tersebut karena dia sendiri melihat kehidupan prajurit di pulau terluar sangat memprihatikan.

“Padahal, mereka sudah berjuang keras untuk menjaga pulau ini dari negara tetangga yang ingin memilikinya,” ujarnya.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat