Polisi Gunakan Hipnoforensik. Apa Itu?

Ibrahim N.Bollang, S.Kp.,MM.,MHT.,C.Ht,CI saat seminar hipnoterapi di Mataram
Ibrahim N.Bollang, S.Kp.,MM.,MHT.,C.Ht,CI saat seminar hipnoterapi di Mataram (foto:dani)

kicknews.today – Mataram, Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah hipnoforensik yang digunakan oleh polisi dalam menggali keterangan saksi ataupun tersangka, seperti yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya pada proses penyidikan Agus, tersangka kasus pembunuhan anak dalam kardus yang saat ini sedang menjadi sorotan publik.

Apa sebenarnya hipnoforensik?

Pakar dan praktisi hipnoterapi Ibrahim N.Bollang, S.Kp.,MM.,MHT.,C.Ht,CI menjelaskan kepada kicknews usai seminar hipnoterapi di gedung Graha Bhakti Praja Provinsi NTB kemarin, Sabtu (10/10/2015), bahwa hipnoforensik adalah suatu metode hipnosis yang dilakukan untuk menggali keterangan maupun pengakuan yang sulit dilakukan pada saat otak yang diperiksa dalam keadaan sadar dengan gelombang otak pada posisi beta.

Frekwensi gelombang otak manusia setiap saat berbeda tergantung pada kondisinya, gelombang beta berada diantara 12-25 Hz dimana ini adalah kondisi terjaga, sedangkan gelombang alfa berada pada 8-12 Hz yang merupakan kondisi relaksasi, kemudian gelombang tetha berada pada 4-8 Hz dimana seseorang sedang berada pada kondisi relaksasi yang sangat dalam.

“Kita biasa tidurkan dia dulu kemudian pada saat dia sudah kosong dengan gelombang otak pada posisi alfa atau tetha dan gelombang otak sudah datar, kita bisa gali apapun potensi dia dan itupun dia tidak bisa bohong”. ungkap hipnoterapis yang juga berprofesi sebagai dosen ilmu kesehatan itu.

Bagaimana ketika seseorang tidak menginginkan dirinya dihipnotis?

“Dalam ilmu hipnoterapi memang seseorang yang akan dihipnotis selayaknya harus rela untuk direlaksasai guna memasuki alam bawah sadarnya, namun ada beberapa tehnik mengecoh dengan memainkan pola otaknya yang biasa dilakukan untuk membuat dia tertidur dan ikhlas”. kata Ibrahim N.Bollang.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa pola pengecohan otak yang lumrah dilakukan misalnya dengan mencampur warna ataupun menghitung sehingga otaknya merespon acak dan dia bisa tertidur, kemudian pada saat itulah polisi harus bisa menggali segala permasalahan yang ada baik dari motif maupun cara dia melakukan kejahatan.

Dikatakan olehnya bahwa saat ini banyak polisi yang meminta kepadanya unuk melakukan hipnoforensik guna kepentingan penyidikan, bahkan telah dilakukan pelatihan-pelatihan kepada beberapa polisi di jawa barat agar dapat melakukan sendiri hal tersebut.(*)

 

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat