Jadilah yang Pertama Tau

Tangisan Bumi

ilustrasi - kebakaran hutan di rokan hulu Riau (mongabay.co.id/net)
ilustrasi – kebakaran hutan di rokan hulu Riau (mongabay.co.id/net)

 

ceritakita.kicknews.today – Sejarah mencatat, asap merupakan bahasa isyarat kuno untuk mengirimkan pesan jarak jauh yang digunakan di banyak belahan dunia seperti di Tiongkok, Yunani hingga Amerika.

Pada zaman Raja Darius I di Yunani, (522-486 Sebelum Masehi), asap digunakan untuk mengirimkan pesan Raja ke daerah kekuasaannya yang terletak jauh dari pusat pemerintahan.

Raja menyuruh seseorang untuk berdiri di ketinggian dan menyalakan api. Setiap kepulan asap dari api itu merupakan sandi yang bila dirangkai bisa menjadi kalimat berisi pesan Raja.

Itu juga terjadi di Tiongkok. Asap digunakan para tentara yang terpisah tembok besar untuk berkomunikasi.

Asap dipercaya bisa mengirimkan pesan sejauh 480 km hanya dalam tempo beberapa jam saja.

Di Amerika, suku Indian juga berkomunikasi menggunakan sinyal asap yang dihasilkan dari api unggun. Suku Indian, dengan keahliannya membentuk kepulan asap menjadi simbol tertentu.

Dan kini, di Indonesia asap menjadi pesan rintihan bumi yang sakit akibat kebakaran hutan dam lahan.

Kebakaran hutan Kebakaran hutan terjadi di mana-mana, di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, bahkan di pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau dan di Bangka Belitung. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika mendeteksi ribuan titik api kebakaran hutan di seluruh Indonesia.

Dinas Kehutanan Provinsi Jambi menyebutkan sepanjang tahun 2015 seluas 9.136 hektare kawasan hutan di provinsi itu rusak karena terbakar.

Satuan Tugas Tim Terpadu Kebakaran Lahan dan Hutan Kalimantan Tengah mengklaim lahan yang terbakar sejak Juni hingga 30 September 2015 sekitar 7.847 hektare.

Dan di Sulawesi Utara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah menyebutkan 4.120 hektare hutan dan perkebunan hangus terbakar.

Begitu luas hutan yang terbakar, begitu banyak batang pohon yang hangus menjadi abu dan menghasilkan debu asap.

Pohon memang tidak dapat berbicara, meneriakkan kesakitan ketika dahan-dahannya dilalap api, daunnya yang hijau pelan-pelan menjadi kuning, menghitam dan kemudian hangus menjadi abu.

Tapi andai manusia mau mengerti, andai manusia mau lebih sensitif menggunakan hati dan akal pikirannya untuk memahami bahasa sinyal yang dikirimkan jutaan pohon dan gambut yang terbakar.

Pepohonan mengirimkan sinyal “sakitnya” melalui asap. Asap tebal yang tidak hanya menggelayut di pusat-pusat kebakaran, namun juga menjangkau daerah lain, sampai ke batas Negara Jiran.

Di Batam yang berbatasan dengan Singapura, misalnya, pemerintah daerah tidak pernah mendeteksi adanya kebakaran hutan di pulau itu. Namun, kabut asap yang menggelayut sangat tebal, bahkan sampai pada level “sangat tidak sehat”, berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

Di Singapura, kabut asap bahkan sudah melampaui batas berbahaya, dengan kadar ISPU mencapai 300 poin. Akibatnya, perhelatan internasional yang sedianya dilaksanakan di negara itu harus dibatalkan.

Di Malaysia, sekolah-sekolah terpaksa diliburkan karena khawatir anak-anak sakit akibat terpapar kabut asap.

Dan di daerah yang sangat dekat dengan sumber kebakaran, di Riau, sedikitnya 12.262 orang menderita infeksi saluran pernapasan akut, berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Riau.

Ya, bila asap diibaratkan teriakan pohon yang kesakitan maka telinga kita sudah pekak karena jeritannya.

Pesan tersampaikan Pesan darurat kebakaran hutan yang dikirimkan jutaan pohon melalui asap telah tersampaikan dengan baik. Seluruh Indonesia, bahkan negara-negara ASEAN dan dunia memberikan perhatian besar kepada bencana itu.

Akhirnya, dunia menoleh. Padahal, kebakaran hutan sudah seperti penyakit kambuhan di Riau dan sejumlah daerah lainnya.

Banyak yang percaya, kebakaran dilakukan sengaja oleh perusahaan perkebunan yang ingin merambah hutan, demi menambah arealnya.

Perusahaan industri kehutanan dan produsen kertas, Asia Pacific Resources International Holdings Limited (APRIL) mengambil sikap tegas menanggapi pembakaran hutan, dengan mengevaluasi dan akan memutuskan kontrak terhadap perusahaan penyuplai bahan baku kayu yang terbukti membakar hutan.

“Kita sangat tegas pada kebijakan tanpa bakar, atau ‘no burn policy’, baik itu terhadap perusahaan sendiri dan mitra kerjanya. Kita akan mengevaluasinya dan kalau perlu kita akan putuskan hubungan kerjasama,” tukas Director of Sustainability PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), anak perusahaan APRIL, Rudi Fajar.

Satuan Tugas Penegakan Hukum Kebakaran Lahan dan Hutan Provinsi Riau juga sudah bergerak, mendalami keterlibatan 18 korporasi yang diduga membakar lahan��di delapan kabupaten di provinsi itu.

Berbagai pihak turun tangan, bahu membahu menangani kebakaran hutan, menjawab “teriakan” pepohonan.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) berhasil memadamkan 3.163 titik api dan asap dari 3.289 titik api akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di empat provinsi yakni Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Presiden Joko Widodo pun akhirnya membuka diri untuk menerima bantuan dari negara lain, di antaranya Malaysia.

Malaysia berencana mengirimkan sebuah pesawat amfibia Bombardier CL415MP ke Indonesia, untuk membantu operasi memadamkan kebakaran hutan.

Presiden Joko Widodo pun optimistis, dengan bantuan negara asing penanggulangan masalah asap di Indonesia ditargetkan selesai dalam tempo dua pekan ke depan. (*)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat