BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Menjaga Bahasa

kicknews.today – Perasaan galau, khawatir, dan cemas terhadap semakin banyaknya kosa kata asing dalam pemakaian bahasa sehari-hari di tempat-tempat umum dan media massa akhir-akhir ini mencuat kembali.

Fenomena ini bukan yang pertama. Pada masa Wardiman Djojonegoro menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Orde Baru, pemakaian bahasa asing dalam konteks berbahasa Indonesia juga menimbulkan kegalauan mereka yang peduli terhadap pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Pemerintah saat itu turun tangan. Pemda DKI Jakarta menginstruksikan penggantian papan-papan nama yang menggunakan kosa kata atau gramatika bahasa asing, Inggris terutama. Nama-nama hotel, pertokoan, mal, dan kompleks hunian yang menggunakan struktur bahasa Inggris terpaksa diubah mengikuti hukum tata bahasa Indonesia.

Kebijakan itu ternyata tak langgeng. Reformasi lahir dan kemerdekaan untuk memilih nama-nama atau merek kembali mengikuti selera kebahasaan masing-masing individu.

Yang mencolok dalam pertelevisian dalam pemakaian bahasa asing sebagai tajuk program acara adalah Metro TV. Meskipun bahasa Indonesia digunakan untuk mengisi acara-acara itu, tajuk programnya menggunakan kosa kata Inggris. Bahkan tokoh pers Jaffar Asegaff (mendiang), yang pernah menulis kritik terhadap pemakaian bahasa pers yang dinilainya seperti gado-gado karena bahasa asing dan Indonesia dipakai tak semestinya, tak kuasa mengubah program yang diasuhnya, yang bertajuk VIP, singkatan dari bahasa asing yang berarti Orang-Sangat Penting.

Apakah bahasa Indonesia akan rusak dengan pemakaian kata-kata asing dalam konteks berwacana dengan bahasa Indonesia? Sebagian besar orang berpendapat demikian. Semakin banyaknya pemakaian bahasa asing dalam bahasa Indonesia akan merusak bahasa Indonesia.

Tapi pendapat yang jadi arus utama ini ditolak sastrawan F Rahardi. Dia yakin bahwa tak seorang pun dapat merusak bahasa. Tampaknya opini Rahardi yang juga menulis sejumlah buku puisi ini mendekati kebenaran.

Yang benar adalah bahasa Indonesia tetap kaya, indah, memesona, dan unik ketika yang menggunakan adalah para penulis, novelis, dan penyair yang kualitas linguistiknya memang tak diragukan lagi.

Setiap hari para penulis piawai menulis di kolom-kolom media massa dengan bahasa Indonesia yang terstruktur, terjaga kualitasnya. Mereka lah yang merawat, menjaga. memuliakan dan mengagungkan bahasa Indonesia yang merupakan produk budaya Nusantara. Bahkan para penyair memperkaya kosa kata dengan memungut berbagai khazanah bahasa di Nusantara.

Bagaimana dengan para penulis yang sembrono, yang bahasa Indonesianya amburadul? Bagaimana dengan pejabat yang masih sering menggunakan bahasa Indonesia campur bahasa asing? Bagaimana dengan pusat-pusat bisnis yang menggunakan bahasa Inggris yang dibaca khalayak Indonesia? Mereka yang masih buruk dalam pemakaian bahasa Indonesia, dan mengagungkan bahasa asing tak punya daya merusak tapi justru malah memamerkan kualitas penggunaan bahasa mereka.

Apakah pemakaian bahasa asing yang agresif tak akan memojokkan bahasa Indonesia? Dalam batas-batas tertentu mungkin. Tapi selalu ada sikap tandingan dari para penulis beken yang akan terus menggali khazanah bahasa Indonesia yang dipinggirkan.

Sejumlah upaya bisa dilakukan untuk menempatkan bahasa Indonesia kembali di tempat terhormat di mata publik. Salah satu usaha itu adalah pemberian anugerah pada mereka yang peduli pada bahasa seperti dilakukan sejumlah lembaga bahasa yang dikelola pemerintah maupun lembaga swasta.

Badan Bahasa yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan setiap tahun memberikan penghargaan pada media massa yang dinilai paling bagus menggunakan bahasa Indonesia.

Di tingkat lokal, Balai Bahasa Jawa Tengah juga dikabarkan akan menganugerahi budayawan KH A Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus karena dia dinilai berjasa dalam pemakaian bahasa Indonesia lewat karya-karyanya.

“Kami akan memberikan penghargaan ‘Prasidatama 2015’ kepada 11 tokoh berpengaruh di Jateng, salah satunya adalah Gus Mus,” kata Kepala Balai Bahasa Jateng Pardi Suratno.

Menurut dia, Prasidatama merupakan penghargaan yang diberikan kepada tokoh yang menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan bahasa dan berjasa membawa nama Jateng di dunia bahasa dan sastra.

Pemberian penghargaan semacam itu, kata dia, sudah dilakukan Balai Bahasa Jateng sejak 2013 sehingga sekarang ini merupakan tahun ketiga pemberian penghargaan bidang bahasa dan sastra.

“Pada 2013, penghargaan yang diberikan masih sebatas kepada tokoh dan lembaga pengguna bahasa Indonesia. Untuk tahun ini, kami kembangkan dalam sepuluh kategori penerima penghargaan,” katanya.

Kesepuluh kategori penerima pengharagaan itu, antara lain tokoh publik berbahasa Indonesia terbaik yang diberikan kepada Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof Muhammad Nasir.

“Kategori tokoh pengabdi sastra diberikan kepada dua tokoh, yakni Darmanto Jatman dan NH Dini. Gus Mus akan dianugerahi penghargaan untuk kategori budayawan peduli bahasa dan sastra,” katanya.

Upaya lain yang bisa dianggap ampuh dalam memuliakan bahasa Indonesia adalah menyediakan rubrik-rubrik kebahasaan di media massa. Selama ini harian Kompas, Media Indonesia, dan Majalah Berita Mingguan Tempo memiliki rubrik bahasa.

Di rubrik inilah bahasa Indonesia dikupas dari berbagai segi, seperti sintaksis, semantik, maupun etimologis. Di internet, tulisan-tulisan bertema bahasa Indonesia juga tersedia dan tersebar atas usaha pegiat dan pecinta bahasa Indonesia.

Jadi tak usah galau terhadap nasib bahasa Indonesia.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About kicknews. today

Dalam Kategori Ini

Bahasa Indonesia Akan Jadi ‘Lingua Franca’ ASEAN

  Surabaya – Workshop “Strategi Pengembangan Bahasa Indonesia menjadi Lingua Franca ASEAN” dimulai sejak Kamis ...