Jadilah yang Pertama Tau

Gelombang penusukan guncang israel dan Tepi Barat

 

Peta Wilayah Palestina yang semakin menyusut (net)
Peta Wilayah Palestina yang semakin menyusut (net)

kicknews.today Yerusalem – Gelombang peristiwa penusukan baru mengguncang Israel dan Tepi Barat pada Jumat, termasuk serangan balasan oleh seorang warga Yahudi yang melukai dua warga Palestina dan dua warga Israel keturunan Arab.

Serangan-serangan yang sama juga terus berlangsung terhadap penduduk Israel dan Yahudi. Seorang pria asal Palestina tewas ditembak saat berusaha menusuk anggota polisi di dekat pemukiman Yahudi dekat Tepi Barat.

Di Yerusalem, seorang remaja Yahudi berusia 16 tahun menderita luka ringan saat ditusuk oleh pemuda Palestina (18 tahun) yang kemudian ditangkap.

Pria Yahudi yang melakukan penusukan juga masih berusia muda, sekitar 20 tahun. Kepada polisi, dia mengaku melakukan serangan di kota Dimona karena “semua orang Arab adalah teroris.” Tidak ada korban meninggal dalam serangan tersebut.

Serangan pria Yahudi tersebut merupakan pembalasan pertama setelah 11 peristiwa penusukan dengan korban warga Yahudi sejak Sabtu lalu. Dua orang telah tewas dalam gelombang penusukan.

Selain itu, seorang perempuan juga ditembak setelah mencoba melakukan penusukan di Israel bagian utara.

Sejumlah warga Palestina juga melakukan kerusuhan di wilayah rampasan Yerusalem timur dan Tepi Barat pada beberapa hari terakhir.

Gelombang serangan penusukan itu kemudian memunculkan kekhawatiran akan kerusuhan yang lebih luas dan bahkan intifada ketiga.

Reaksi keras mulai muncul dari kalangan garis kanan Yahudi yang melakukan demonstrasi di Yerusalem pada Kamis malam. Mereka meneriakkan slogan seperti “Mati bagi Arab”.

Mereka memprotes keberadaan warga Israel keturunan Palestina yang bertahan setelah terbentuknya negara Israel pada 1948. Mereka secara hukum diakui sebagai warga negara oleh Israel.

Selain itu, puluhan ribu warga Palestina bekerja di Israel, terutama di sektor konstruksi.

Penusukan pada Jumat muncul bersamaan dengan upaya pencegahan perluasan konflik oleh pihak keamanan Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan menyatakan bahwa negaranya tengah menghadapi “gelombang teror” paling tidak terorganisir.

“Aksi-aksi ini tidak terorganisir, tapi serangan tersebut adalah dampak dari propaganda Hamas, Otoritas Palestina, dan juga negara-negara tetangga,” kata dia.

Di sisi lain, Presiden Palestina Mahmud Abbas menyerukan agar para warga Palestina lebih memilih “perlawanan yang damai dan popular.” Namun demikian, para pemuda seringkali menyuarakan frustasi atas kepemimpinan Abbas dan juga pemerintahan Israel.

Salah satu titik ketegangan yang paling panas berada di Kota Tua Yerusalem tempat Masjid Al Aqsa yang menjadi rebutan antara kelompok Yahudi dan Muslim.

Kerusuhan muncul di Kota Tua saat 50 warga Yahudi berdemonstrasi sambil meneriakkan slogan-slogan keras di depan para perempuan Muslim yang kemudian merespon dengan teriakan “Allahu Akbar.” Beberapa pekan sebelumnya, bentrokan muncul antara kelompok muda Palestina dengan kepolisian Israel di kompleks Masjid Al Aqsa. Akibatnya, pihak keamanan melarang pria di bawah 45 tahun memasuki kompleks masjid sejak Jumat ini.

Di kawasan Kota Tua pula dua warga Israel tewas dalam gelombang penusukan sejak Sabtu lalu.

Untuk mencegah meluasnya konflik, Netanyahu melarang anggota parlemen dan kabinet untuk mengunjungi Masjid Al Aqsa. (Ant/AFP)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat