BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Bripka Hasbullah Sang Ustadz Bhayangkara

 

Bripka Hasbullah saat mengajar mengaji di rumah salah seorang warga (Foto : Piex)
Bripka Hasbullah saat mengajar mengaji di rumah salah seorang warga (Foto : Piex)

 

Praya, kicknews - Bripka Hasbullah adalah seorang yang komplit. Ia mampu mengawinkan seni pengayom (sebagai polisi) dan seni mendidik (sebagai guru mengaji). Sedikit manusia punya kecerdasan sosial seperti itu, dan Hasbullah mampu memperlihatkan kepada semua orang wajah polisi idaman yang dibutuhkan masyarakat.

Lahir di Renggung, pada 12 Maret 1978. Ayah dari; Maulana Muhammad Nurhidayat (8 th), Fatimah Azzahro (7 th) dan Nadia Salsabilla (5 th) ini bertugas di Polres Lombok Tengah sebagi Kanit Intel Sektor Batukliang Utara – Lombok Tengah. Dalam menjalankan tugasnya sebagai pengayom masyarakat, Bripka Hasbullah yang pernah mengenyam pendidikan Al Qur’an disebuah pondok Ma’had (pembelajaran Al Qur’an) di Ma’had Tahfuzul Qur’an Bidayattul Bidayah di Ampenan Kota Mataram dari Tahun 2011 hingga 2014 berusaha menyatu dengan masyarakat, mengalir jernih dengan membawa kesejukan yang berasal dari ilmu yang diperolehnya. Yaitu ilmu Al Qur’an.

Saat kembali kekampung halamannya di Lombok Tengah, suami dari Ismi Mufidun Walidani yang dinikahinya pada Desember 2005 ini, mencoba membagi ilmu agama yang diperolehnya dengan mengajar disalah satu Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an, Al Mustofa Lendang Gendis, Gerunung, Kec. Praya. selain di pondok pesantren, Bripka Hasbullah juga memberikan pembelajaran di beberapa tempat seperti dibeberapa rumah warga di Desa Mantang, Loteng selain dirumahnya sendiri. Bahkan, salah satu warga mempercayakan rumahnya untuk dikelola dan dijadikan tempat pembelajaran Al Qur’an.

“Menurut saya pengayom masyarakat yang disematkan pada polisi itu maknanya adalah bukan sekedar melindungi tapi juga mendampingi dan memberikan pembelajaran pada masyarakat tentang nilai moral yang baik, dan itu berat. Karena nilai moral yang baik itu bukan sekedar ucapan tapi dengan memberi contoh.” Ucapnya.

Yang menarik, disela-sela kesibukannya sebagai Anggota Kepolisian Bripka Hasbullah masih menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan tabligh ke masjid-masjid di sekitar wilayah Lombok Tengah. Kini, tempat belajar Al Qur’an-nya semakin berkembang pesat. Terutama dari banyaknya santri yang mengikuti pembelajaran Bripka Hasbullah. Bahkan santri-santrinya di luar pondoknya adalah santri-santri dewasa bahkan tidak terbatas usia, dan berasal dari banyak kalangan diantaranya merupakan lulusan perguruan tinggi seperti Universitas STAIN, Tahfiz Qur’an, Dosen (S2), tokoh Masyarakat, Imam Masjid dan juga banyak dari kalangan Dai. Karena tujuan utama Bripka Hasbullah memberikan pembelajaran Al Qur’an ini adalah untuk mencetak guru-guru Al Qur’an.

Dalam menjalankan aktifitas luangnya itu diluar tugas utamanya sebagai Anggota Polisi, agar tidak berbenturan, Bripka Hasbullah menentukan sendiri semua jadwal mengajarnya sehingga tak heran kalau jadwalnya sering berubah-ubah. Namun hal itu tidak dipermasalahkan oleh para santrinya yang memang mengerti akan kesibukan serta tugas utama guru mereka.

Dengan jumlah santri mencapai sekitar 146 orang yang tersebar dibeberapa wilayah diseputaran Lombok Tengah, dan dengan jumlah guru yang minim hanya 8 orang termasuk dirinya. Bripka Hasbullah mulai membatasi pendaptaran santri-santri baru, namun bukan berarti masyarakat tidak bisa mendapatkan kucuran ilmu Al qur’an yang dimiliki Sang Ustadz Bhayangkara ini. Bahkan, sering kali Bripka Hasbullah memimpin jamaah masjid sebagai imam masjid, ataupun khotbah Jum’at. Sebuah contoh pembelajaran dari seorang Anggota Bhayangkara, yang tidak hanya memberikan pembelajaran namun juga bimbingan karena hidup akan diliputi kegamangan bila kita tidak mengetahui tujuan hidup kita. Dan Bripka Hasbullah sudah menemukan tujuan hidupnya. Sebagai pengayom dan pendidik dimasyarakatnya. (Hero)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About kicknews. today