BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Denny JA buat puisi untuk Buyung Nasution

Adnan Buyung Meninggal Dunia (Foto Arsip) Pengacara senior Adnan Buyung Nasution menyampaikan paparan di sela peluncuran Constitution Centre Adnan Buyung Nasution (Concern ABN) di Jakarta, Rabu (23/6/2010). Adnan Buyung Nasution meninggal dunia karena sakit ginjal di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan pada Rabu (23/9/2015) sekitar pukul 10.15 WIB. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu) ()
Adnan Buyung Meninggal Dunia (Foto Arsip) Pengacara senior Adnan Buyung Nasution menyampaikan paparan di sela peluncuran Constitution Centre Adnan Buyung Nasution (Concern ABN) di Jakarta, Rabu (23/6/2010). Adnan Buyung Nasution meninggal dunia karena sakit ginjal di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan pada Rabu (23/9/2015) sekitar pukul 10.15 WIB. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu) ()

Jakarta-KickNews,- Wafatnya pengacara senior, Adnan Buyung Nasution direspon banyak kalangan dengan berbagai cara, antara lain Denny JA, tokoh Indonesia Tanpa Diskriminasi, meresponnya dengan membuat  puisi.

“Bang Buyung adalah tipe intelektual yang semakin jarang,” kata Denny JA dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis.

Denny menilai Buyung Nasution adalah tipe entrepreneur intelektual, seorang cerdik pandai yang juga berperan sebagai entrepreneur sosial, menjadi aktivis, dan penggerak “civil society”.

“LBH dan perjuangannya untuk negara hukum dan sikapnya yang anti diskriminasi menjadi legacy Bang Buyung,” ujarnya.

Bagi Denny JA sendiri, Buyung Nasution adalah salah satu suhu yang banyak menginspirasinya terutama di era ketika Denny menjadi aktivis mahasiswa tahun 80-an.

Ini puisi lengkap Denny JA:

Selamat Jalan Bung! Kepada Buyung Nasution

Bung,
Bukan kepergianmu benar yang membuat kami sedih
Karena semangat juangmu tetap hidup bersama kami

Bukan kepergianmu benar yang membuat kami terpaku
Karena gagasanmu dan gagasan kami sudah menyatu

Kami sedih
karena negeri yang kau tinggalkan
Belum sepenuhnya tercerahkan

Kami sedih
karena Korupsi masih meraja lela
Diskriminasi masih kentara
Kemiskinan masih banyak di desa dan di kota
Sementara banyak lembaga negara
masih tak amanah mengelola kuasa

(Demikianlah para aktivis berpidato
Mengenang si Abang yang hero
Sementara Nina duduk termangu
Baginya di Abang bukan semua itu

Baginya, Si Abang adalah guru
yang membimbingnya selalu
Sejak ia masih lugu
hingga kini ia tumbuh sebagai suhu

Dari si Abang ia belajar berani bersuara
Dari si Abang ia belajar berpihak)

Nina terus memandang wajah si Abang
Yang sudah kaku terdiam
Sambil dibisikkannya salam:
“Selamat jalan Bang Buyung
Kami teruskan perjuanganmu
yang belum selesai”

(Jakarta, 23 Sept 2015 Denny JA)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About

Dalam Kategori Ini

Puisi Karya Siswa SD Mataram Jadi Juara Nasional

  Surabaya – Puisi berjudul “Ikrar Suci Bunga Bangsa”, karya Jesslyne Devina Heriyanto, siswa SDK ...